Jalan darurat yang dibangun oleh warga cukup kuat, menggunakan batang pohon kelapa yang diatur dari bibir jembatan hingga jalan aspal menuju Loloda. Namun, pengendara mobil harus melalui aliran kali yang kondisi jalannya kurang layak bagi Damri (Bus) Tobelo-Loloda.
“Kami sudah menyiapkan alas batu di setiap wadah air sehingga aman untuk dilalui, tetapi ada sedikit tanjakan di ujung jalan kali yang tidak dapat dilalui Damri. Namun, mobil kecil seperti Inova, Avanza, dan Hilux masih bisa melewatinya,” jelas Rajab.
Meski jalan darurat telah dibangun, beberapa pengendara memilih mengoper barang atau penumpang ke mobil yang sudah menunggu di seberang kali. Seringkali, mobil yang berkali-kali mogok atau mengalami kerusakan.
“Beberapa kali ada mobil yang rusak akibat tergenang udara di kali. Ini sering terjadi dalam dua hari terakhir, terutama ketika udara di kali meluap dan jalan darurat tidak dapat digunakan,” tambahnya.
Rata-rata, baik pengendara motor maupun mobil harus mengambil keputusan berisiko untuk melewati jalur darurat tersebut. Oleh karena itu, respons cepat dari pemerintah sangat mendesak. Pasalnya, jalan Galela-Loloda merupakan jalur penting bagi para sopir angkutan umum yang setiap hari mengantarkan dan menerima barang dari Tobelo sebagai mata pencaharian mereka.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!