Maba, Maluku Utara- Pemerintah Daerah Halmahera Timur (Haltim) melalui Dinas Pertanahan dan Lingkungan Hidup (DPLH) menyoroti kinerja penanganan sedimentasi (lumpur-red) di area Marnopo oleh PT. Aneka Tambang (Antam) yang masih kurang efektif.
Kepala DPLH Haltim, Harjon Gafur, dikonfirmasi mengatakan pihaknya telah memberikan penekanan terhadap pihak PT. Antam agar mencarikan solusi lain dalam pengamanan sedimentasi di area tersebut. Pasalnya, penggunaan alat sedot alias Geotub yang digunakan oleh pihak Antam masih kurang efektif dan memakan waktu lama dalam menyelesaikan masalah lingkungan di area itu.
“Dalam rapat bersama Antam saya sudah memberikan penegasan bahwa perlu dicarikan solusi lain terkait penanganan lumpur di Marnopo karena penggunaan Geotub kurang efektif dan memakan waktu yang sangat lama,” jelas Harjon, Rabu (28/9/2022).
Kata dia, sebaran sedimentasi di wilayah itu sudah mencapai titik klimaks, di mana kurang lebih luasan bibir pantai di wilayah Marnopo tersebut sebanyak 5 hektar telah tertutupi sedimentasi lumpur tambang sehingga butuh penaganan ekstra.
“Memang ada progres dari penggunaan Geotub itu, namun sebaran sedimen yang begitu luas harus dilakukan penanganan cepat dan serius, makanya saya tegaskan kalau ada cara lain yang lebih cepat maka perlu dipertimbangkan,” tegas Harjon.
Dikatakan, penggunaan Geotub oleh PT. Antam untuk tahap satu telah memakan waktu sekitar 6 (enam) bulan, di mana baru sekitar 20.000 meter kubik sedimentasi yang bisa dikendalikan oleh pihak Antam menggunakan teknologi asal Belanda tersebut. Namun masih tersisa sebanyak 50.000 meter kubik lagi yang butuh kerja ekstra dari pihak Antam.
“Antam baru selesai di tahap pertama, ini mau dilanjutkan di tahap kedua dengan durasi waktu yang dibutuhkan sekitar 7 bulan,” katanya.
Dirinya berharap agar persoalan rona lingkungan harusnya menjadi fokus pihak perusahan tambang, bukan saja Antam, namun seluruh perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah Haltim. Tentu dengan harapan agar tidak terjadi kerusakan lingkungan seperti yang terjadi di wilayah Marnopo.
“Dalam rapat bersama pihak perusahaan, kita tekankan bahwa rona lingkungan harus jadi fokus utama karena sangat berkonsekuensi terhadap keberlangsungan hidup manusia maupun ekosistem lainnya,” tandasnya. (RH-2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!