Kata Aji, visi ini tidak hanya mencakup pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, tetapi juga perlindungan terhadap kekayaan alam dan kearifan lokal di daerah dengan jumlah pulau 395 ini. “Pemimpin yang mampu mengintegrasikan kearifan lokal dalam kebijakan pembangunan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara holistik, sambil mempertahankan keberlanjutan lingkungan dan budaya,” ujarnya.
Di samping itu lanjut Aji, seorang pemimpin yang nanti memimpin Maluku Utara punya kemampuan untuk membangun kemitraan yang kuat dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta, masyarakat sipil, dan akademisi, adalah hal yang penting. Kolaborasi ini tidak hanya mendukung implementasi kebijakan yang efektif, tetapi juga memastikan bahwa kepentingan masyarakat dan stakeholder lainnya tercermin dalam setiap langkah pembangunan yang diambil.
“Dengan demikian, sosok ideal untuk memimpin Maluku Utara haruslah bukan hanya sebagai figur otoritas, tetapi juga sebagai pemimpin yang inklusif dan mampu merangkul berbagai kepentingan untuk mencapai kemajuan bersama yang berkelanjutan,” pungkas akademisi UMMU itu. (Ecal/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!