Seni Menari dalam “Penjara”

Acapkali kita bicara soal kebebasan dengan nada yang teramat gagah. Seolah ia adalah sebuah ruang kosong yang luas, tempat kita bisa berlari kemana saja tanpa perlu mencemaskan apa pun yang ada di belakang. 

Padahal dalam laku hidup yang nyata, saya makin menyadari bahwa kebebasan mutlak itu sebenarnya hanyalah ilusi yang kita ciptakan untuk menghibur diri dari rasa takut akan keterbatasan yang kodrati. 

Setiap kali kita melangkah dan mengambil sebuah keputusan, kita sebenarnya sedang menutup pintu bagi ribuan kemungkinan lainnya. Dan itu berarti kita sedang menyerahkan sebagian kemerdekaan kita untuk terikat pada satu pilihan yang kita anggap paling bermakna. 

Sejujurnya…Tidak ada tindakan yang benar-benar lepas dari gravitasi konsekuensi. Karena setiap gerak batin maupun raga, akan selalu membawa beban pertanggungjawaban yang harus kita panggul dengan pundak sendiri tanpa bisa didelegasikan kepada siapa pun.

BACA JUGA  Tak Berizin, Satu Unit Usaha Pangkas Rambut Ditertibkan Satpol PP Ternate

​Mungkin kita perlu belajar untuk tidak lagi melihat kebebasan sebagai momen saat kita lepas dari segala ikatan. Ini lebih sebagai sebuah kesadaran yang tenang untuk memilih keterikatan mana yang paling sanggup kita pelihara dengan penuh cinta dan tanggung jawab. 

Karena kita tidak pernah benar-benar bebas dari dunia yang mengepung kita. Tetapi kita memiliki martabat untuk menentukan kepada siapa atau kepada nilai apa kita bersedia menambatkan seluruh kesetiaan, meski itu berarti kita harus menanggung pahitnya pengorbanan yang menyertainya. 

Ada sesuatu yang mengharukan saat kita akhirnya berhenti mengejar khayalan tentang hidup yang serba bebas, lalu mulai menetap pada satu pilihan yang nyata. Dan di saat itulah kita sebenarnya sedang bertumbuh karena kita sadar bahwa menjadi dewasa itu berarti sungguh-sungguh memeluk konsekuensi dari setiap jalan yang kita pilih sendiri.

BACA JUGA  Momen Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, PLN UP3 Sofifi Berbagi Kebaikan, GM PLN UIW MMU: Wujud Rasa Syukur

Bagi saya, kebebasan yang sejati bukanlah tentang seberapa banyak pintu yang bisa kita buka.  Tetapi tentang seberapa kuat kita bertahan di balik satu pintu yang telah kita pilih dengan kesadaran  paling jernih dan kejujuran yang paling matang. 

Dan mungkin disitulah letak seninya. Yaitu bagaimana kita tetap bisa merasa gembira dan tenang meski kita tahu bahwa kita sudah tidak punya pilihan lain, selain setia pada jalan yang sudah kita pilih sendiri. (*)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah