Sanana, Maluku Utara – Tradisi budaya sakral Gabalil Hai Sua kembali digelar di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara. Sebanyak 310 peserta yang tergabung dalam 30 tim resmi dilepas pada Sabtu (2/5/2026), untuk mengelilingi Pulau Sulabesi sejauh kurang lebih 135 kilometer.
Prosesi pembukaan dan pelepasan berlangsung di Benteng De Verching, Sanana, dengan mengusung tema “Ritual Budaya dan Kearifan Lokal.”
Tradisi Gabalil Hai Sua merupakan ritual turun-temurun masyarakat Kabupaten Kepulauan Sula yang sarat nilai adat, spiritualitas, serta penghormatan kepada leluhur. Lebih dari sekadar perjalanan fisik, kegiatan ini menjadi simbol kesiapan mental dan spiritual, terutama bagi masyarakat yang hendak merantau untuk bekerja maupun menempuh pendidikan.
Pelepasan peserta berlangsung khidmat. Lantunan adzan dan sholawat mengiringi langkah awal para peserta yang akan menempuh perjalanan panjang mengelilingi pulau.
Selama perjalanan, peserta dijadwalkan singgah dan bermalam di empat titik, yakni Desa Nahi, Desa Fuata, Desa Fatkouyon, dan Desa Fat Iba.
Wakil Bupati Kepulauan Sula, M. Saleh Marasabessy, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum istimewa karena bertepatan dengan peringatan hari jadi daerah.
“Hari ini adalah hari yang istimewa bagi kita semua karena kita berkumpul menyambut hari jadi Kota Sanana dan Kabupaten Sula melalui kegiatan budaya yang sangat bermakna, yaitu Gabalil Hai Sua,” ujarnya.
Ia mengaku bangga melihat tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti dan menyaksikan tradisi tersebut.
“Saya merasa bahagia melihat begitu banyak masyarakat yang hadir dengan penuh semangat dan rasa cinta yang besar terhadap budaya daerah kita. Ini menjadi bukti bahwa adat dan tradisi tetap hidup di tengah masyarakat Kabupaten Sula,” katanya.
Menurutnya, Gabalil Hai Sua bukan sekadar perjalanan mengelilingi pulau, tetapi memiliki makna yang lebih dalam sebagai simbol kecintaan kepada leluhur dan pengikat nilai kebersamaan.
“Tradisi ini adalah jejak cinta kepada para leluhur. Ia mengajarkan kebersamaan, keteguhan hati, serta semangat persaudaraan dalam bingkai nilai Dad Hia Ted Sua,” tambahnya.

Ia juga menegaskan bahwa budaya Sula merupakan bagian penting dari kekayaan budaya nasional yang harus dijaga keberlangsungannya. “Saya mengajak seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda, untuk bangga menjadi anak daerah dengan adat dan budayanya. Jangan sampai warisan besar ini hanya tinggal cerita, tetapi harus terus hidup dalam hati masyarakat,” tegasnya.
Pemerintah daerah, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian budaya lokal sebagai identitas daerah.
Sementara itu, penasehat sekaligus promotor kegiatan, Adnan Husein, mengungkapkan bahwa kecintaannya terhadap tanah Sula telah tumbuh sejak kecil melalui cerita sang ibu.
“Sejak itu saya akrab dengan kisah-kisah tentang desa-desa di Sula, adat istiadat, hingga ritual leluhur seperti Gabalil Hai Sua. Cerita itu mengalir tanpa henti, bahkan dalam momen paling sederhana,” ungkapnya.
Pelaksanaan Gabalil Hai Sua 2026 tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga memperkuat identitas lokal serta mempererat ikatan sosial masyarakat di tengah arus modernisasi. (RMT/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!