Weda, Maluku Utara – Sirine tak pernah benar-benar berhenti di kawasan industri nikel terbesar di Indonesia Timur. Di balik deru smelter dan lalu lalang alat berat di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), deretan kecelakaan kerja terus berulang meninggalkan jejak duka yang kian panjang.
Peringatan Hari Buruh Internasional 2026 di Halmahera Tengah tak lagi sekadar seremoni tahunan. Ia berubah menjadi panggung perlawanan terhadap apa yang disebut buruh sebagai “krisis keselamatan kerja yang sistemik.”
Data yang dihimpun dari berbagai sumber organisasi buruh dan laporan lapangan menunjukkan tren mengkhawatirkan dalam tiga tahun terakhir:
- 2024: 72 kasus kecelakaan kerja, 25 pekerja meninggal dunia
- 2025: 61 kasus, 26 pekerja meninggal dunia
- 2026 (hingga Maret): sedikitnya 3 kematian dalam insiden terpisah, dengan puluhan kasus kecelakaan belum terpublikasi secara terbuka
Secara keseluruhan, lebih dari 700 kasus kecelakaan kerja dilaporkan terjadi di Maluku Utara, dengan konsentrasi tertinggi berada di kawasan IWIP.
Namun angka-angka ini diyakini belum mencerminkan situasi sebenarnya.
“Banyak kasus tidak dilaporkan secara transparan. Ada kecenderungan ditutup atau dikategorikan sebagai insiden ringan,” kata seorang sumber internal yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Maret 2026 menjadi penanda betapa rapuhnya sistem keselamatan di lapangan.
Dalam satu hari, dua pekerja tewas di lokasi berbeda. Dimana seorang pekerja berusia 22 tahun tewas seketika setelah tertimpa besi H-Beam seberat lima ton. Di area smelter, pekerja asal Tual, Maluku, dilaporkan meninggal akibat tertimpa plat baja besar.
Beberapa pekan sebelumnya, seorang pekerja muda lainnya ditemukan tewas tergantung di area kerja. Kasus ini memunculkan dugaan kuat adanya tekanan kerja ekstrem. Fenomena yang oleh sebagian pengamat disebut mendekati karoshi, istilah dari Jepang untuk kematian akibat kelelahan kerja.
Penelusuran dari sejumlah lembaga sipil mengungkap bahwa kecelakaan di IWIP bukan sekadar insiden acak. Ada pola yang berulang, yakni kecelakaan alat berat akibat minimnya pengawasan dan pelatihan, tertimpa material karena prosedur pengamanan tidak dijalankan ketat. Ada juga kasus ledakan smelter yang diduga terkait kelalaian teknis, dan kelelahan ekstrem akibat jam kerja panjang dan target produksi tinggi.
Temuan ini mengarah pada satu kesimpulan yaitu kegagalan penerapan standar Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).
“Ini bukan lagi soal human error. Ini soal sistem yang membiarkan risiko terus terjadi,” ujar seorang aktivis keselamatan kerja di Ternate.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!