Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate menilai pemerintah belum menunjukkan langkah tegas dalam melindungi buruh. Negara dinilai cenderung pasif dan gagal menghadirkan keberpihakan nyata terhadap pekerja.
Buruh menegaskan bahwa pekerja tidak bisa direduksi menjadi sekadar bagian dari proses produksi. Melindungi pekerjaan tanpa melindungi manusia di dalamnya dinilai sebagai bentuk kegagalan kebijakan.
“Keselamatan buruh tidak boleh dikorbankan atas nama produksi,” tegas Kepala Bidang PTKP HMI Cabang Ternate, Yusril J Todoku, Jumat (1/5/2026).
Hingga kini, respons yang muncul dinilai masih berada pada level imbauan, belum menyentuh sanksi tegas atau audit menyeluruh terhadap operasional industri.
Padahal, secara regulasi, perusahaan tambang wajib memenuhi standar ketat keselamatan kerja. Pelanggaran terhadap itu seharusnya berujung pada penghentian sementara operasional, sanksi administratif hingga pidana, dan audit keselamatan independen.
Namun di lapangan, langkah-langkah tersebut belum terlihat signifikan.
IWIP adalah bagian penting dari rantai pasok nikel global, terutama untuk industri baterai kendaraan listrik. Tekanan produksi tinggi menjadi konsekuensi dari posisi strategis tersebut.
Namun disitulah letak persoalannya. “Keselamatan buruh tidak boleh dikorbankan atas nama produksi,” ungkap salah satu sumber.
Narasi pembangunan industri hijau dan hilirisasi sumber daya alam, menurut mereka, menjadi paradoks ketika di saat yang sama nyawa pekerja terus menjadi taruhan. “Ratusan kasus, puluhan nyawa melayang,” tegas Yusril J Todoku.
Lonjakan kecelakaan kerja di IWIP kini menjadi alarm keras. Tapi pertanyaannya, apakah alarm itu benar-benar didengar?
Jika pola yang sama terus berulang, kecelakaan, kematian, lalu sunyi, maka peringatan Hari Buruh Internasional hanya akan menjadi ritual tahunan yang kehilangan makna.
Di tengah ambisi industrialisasi, satu hal menjadi semakin jelas. Tanpa pembenahan menyeluruh, kawasan industri ini tidak hanya menghasilkan logam, tetapi juga korban. “Hari Buruh 2026 bukan lagi sekadar peringatan. Ini adalah peringatan keras,” tandas Yusril. (RJ/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!