Oleh : Jamain Warfeubun M.Pd | Akademisi IAIN Ternate
••••••••••••••••••
Perkembangan teknologi digital, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah pola hidup masyarakat secara signifikan.
Di satu sisi, kemajuan ini membuka peluang besar dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan komunikasi.
Namun disisi lain, muncul berbagai tantangan seperti hoaks, ujaran kebencian, intoleransi, serta menurunnya etika dalam ruang digital.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti oleh penguatan nilai moral dan karakter.
Dalam perspektif Max Scheler, nilai berfungsi sebagai pedoman yang mengarahkan perilaku individu dalam kehidupan sosial.
Maka nilai-nilai Pancasila perlu dipahami bukan sekedar membaca tek, menghafal teks, atau sebagai dasar negara saja, melainkan menjadi pedoman etis dalam menghadapi dinamika era digital.
Nilai-nilai seperti: kemanusian, persatuan, dan keadilan sosial menjadi landasan penting untuk membangun budaya digital yang sehat dan bertanggung jawab.
Fenomena polarisasi sosial dan penyebaran disinformasi menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman dan pengamalan Pancasila.
Olehnya itu, revitalisasi nilai-nilai Pancasila menjadi kebutuhan mendesak untuk membentuk generasi yang tidak hanya pandai teknologi, namun memiliki integritas moral.
Dalam konteks itu, Pancasila tetap relevan sebagai Kompas moral yang membimbing masyarakat Indonesia menghadapi tantangan globalisasi dan disrupsi teknologi tanpa kehilangan jati diri bangsa. Wallahu a’lam. (*)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!