Pada tahun ini, fokus utama diarahkan pada penguatan investasi sektor non-tambang sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan ekonomi Maluku Utara terhadap industri pertambangan.
“Bagaimana kita mengakselerasi investasi terutama pada sektor non-tambang sebagai sektor yang perlu dipersiapkan untuk shifting dan menjadi alternatif pertumbuhan ekonomi baru di Maluku Utara,” katanya.
Handi menilai, Maluku Utara memiliki potensi besar pada sejumlah sektor unggulan di luar tambang, mulai dari perikanan, pertanian, pariwisata, hingga ekonomi berbasis hilirisasi komoditas lokal.
Karena itu, melalui forum tersebut, BI ingin memperkuat fungsi advisory kepada pemerintah daerah dan pelaku usaha agar mampu menyusun arah kebijakan investasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Selain menjadi wadah diskusi ekonomi, KREF juga diharapkan mampu meningkatkan awareness pemerintah daerah, sektor perbankan, investor, dan dunia usaha terhadap pentingnya diversifikasi ekonomi daerah.
BI menilai transformasi ekonomi berbasis sektor non-ekstraktif menjadi langkah penting guna menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata, berkualitas, dan tahan terhadap gejolak harga komoditas global.
Dengan penguatan investasi non-tambang, Maluku Utara diharapkan tidak hanya bertumpu pada sektor pertambangan, tetapi juga mampu menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan di masa depan. (RFN/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!