Jailolo, Maluku Utara – Di tengah tekanan ekonomi dan sempitnya lapangan kerja, sekelompok pemuda di Halmahera Barat, Maluku Utara, justru mengambil langkah yang tak biasa: kembali ke ladang. Melalui gerakan bertajuk “Menanam untuk Melawan”, mereka menjadikan pertanian sebagai simbol perlawanan terhadap pengangguran sekaligus ketergantungan ekonomi, termasuk terhadap ekspansi industri tambang.
Gerakan ini dipelopori oleh kelompok tani Jagung Manis yang mengelola lahan sekitar satu hektar. Komoditas jagung manis dipilih karena masa panennya relatif cepat dan memiliki nilai jual yang stabil di pasar lokal.
Bagi para pemuda ini, bertani bukan lagi sekadar aktivitas tradisional, melainkan strategi ekonomi yang menjanjikan dan berkelanjutan.
“Bertani hari ini harus dilihat sebagai peluang, bukan pilihan terakhir. Kami ingin mengubah cara pandang bahwa bertani itu keren, menghasilkan, dan punya masa depan,” ujar salah satu anggota kelompok, Tiklas Pileser Babua, kepada redaksi Haliyora.id, Sabtu (4/4/2026).
Dari Lahan Tidur ke Sumber Penghidupan: Strategi Ekonomi Berbasis Lokal
Inisiatif ini tidak berjalan sendiri. Program ini turut melibatkan sejumlah pendamping dari program TEKAD Halmahera Barat, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa. Mereka berperan dalam penguatan tata kelola kelompok, perencanaan usaha tani, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Dengan memanfaatkan lahan yang sebelumnya tidak produktif, para pemuda berhasil mengubahnya menjadi sumber penghidupan baru. Jagung manis menjadi pintu masuk untuk mengembangkan pertanian yang lebih modern dan berbasis pasar.
Langkah ini sekaligus menjadi jawaban atas tantangan ekonomi lokal, di mana sebagian besar generasi muda sebelumnya lebih memilih merantau atau bergantung pada sektor ekstraktif.
Melawan Ketergantungan Tambang, Membangun Kemandirian Desa
Gerakan “Menanam untuk Melawan” juga membawa pesan yang lebih luas: perlawanan terhadap dominasi ekonomi berbasis pertambangan di Maluku Utara.
Para pemuda menilai, ketergantungan pada sektor tambang berisiko tinggi terhadap keberlanjutan lingkungan dan ekonomi jangka panjang. Oleh karena itu, mereka memilih membangun kemandirian dari sektor pertanian yang dinilai lebih ramah lingkungan dan inklusif.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!