Menuju Terang Merata: Misi Kemanusiaan di Balik HUT ke-13 Kabupaten Pulau Taliabu

Bobong, Maluku Utara – Usia ke-13 Kabupaten Pulau Taliabu pada April 2026 tidak sekadar menjadi penanda bertambahnya waktu, melainkan sebuah fase penting menuju perubahan besar yang menyentuh kehidupan masyarakat hingga ke pelosok desa.

Di tengah semangat perayaan hari jadi, terselip sebuah tekad yang lebih dalam: menghadirkan terang secara merata bagi seluruh warga. Di bawah kepemimpinan Bupati Sashabila Mus, visi “Menuju Terang Merata, Taliabu Maju Setara” digaungkan bukan sekadar sebagai slogan, tetapi sebagai misi kemanusiaan yang nyata.

Bagi Sashabila, cahaya bukan hanya soal listrik yang mengusir gelap. Ia adalah simbol peradaban, penanda bahwa sebuah wilayah sedang bergerak maju, membuka akses, dan menciptakan peluang.

“Dalam sejarah manusia, cahaya selalu menjadi awal dari perubahan. Hari ini, listrik adalah kunci untuk membuka masa depan,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).

Komitmen itu kini diterjemahkan dalam langkah konkret: memastikan aliran listrik menjangkau seluruh 71 desa di Pulau Taliabu tanpa terkecuali. Upaya ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, tetapi bentuk kehadiran negara dalam kehidupan masyarakat.

BACA JUGA  Pesan Kadis Pendidikan Kota Ternate: Sekolah Jangan Tahan Ijazah Siswa

Di desa-desa yang selama ini hidup dalam keterbatasan, hadirnya listrik menjadi titik balik. Anak-anak kini dapat belajar di malam hari dengan penerangan yang layak. Pelaku UMKM mulai meningkatkan produktivitas. Nelayan pun memiliki peluang lebih besar menjaga hasil tangkapan melalui teknologi pendingin.

“Saat lampu pertama kali menyala di desa terpencil, di situlah harapan ikut menyala,” kata Sashabila.

Simbol mercusuar yang terpampang dalam logo HUT ke-13 Taliabu pun menjadi representasi kuat dari arah pembangunan tersebut. Mercusuar, menurut Sashabila, bukan sekadar ornamen visual, melainkan filosofi kepemimpinan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama mereka yang selama ini tertinggal.

Cahayanya tidak berhenti di satu titik, melainkan menyebar, menembus batas geografis, dan menghapus sekat ketimpangan.

Pemerintah daerah pun menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh lagi terpusat di ibu kota kabupaten. Distribusi pembangunan harus menyentuh dapur dan ruang hidup masyarakat di desa-desa terpencil.

BACA JUGA  Salurkan Gaji Perangkat Desa dan BPD, Ini Harapan Pj Kades Padang Imelda Yaflean

Visi “Taliabu Maju Setara” menjadi janji untuk memastikan tidak ada lagi wilayah yang tertinggal dalam kegelapan, baik secara harfiah maupun dalam akses terhadap peluang ekonomi dan pendidikan.

“Kita bergerak dari ketimpangan menuju kesetaraan. Semua masyarakat harus memiliki akses dan kesempatan yang sama,” tegasnya.

Kini, di usia ke-13, Pulau Taliabu berada di persimpangan penting. Mercusuar sebagai penunjuk arah, listrik sebagai fondasi pembangunan, dan pemerataan sebagai tujuan utama, mulai menyatu dalam satu narasi besar: membangun peradaban dari pinggiran.

Momentum ini menjadi titik balik transformasi. Desa-desa yang sebelumnya tertinggal kini berdiri di garis awal yang sama, dengan harapan dan peluang yang setara untuk tumbuh.

Pada akhirnya, terang yang merata bukan hanya tentang listrik yang menyala di setiap rumah, tetapi tentang martabat hidup yang layak bagi setiap warga.

Di usia yang ke-13 ini, Taliabu tidak sekadar menyalakan lampu. Ia sedang menyalakan obor masa depan. (RHM)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah