Lebih lanjut ia memaparkan, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2024 tumbuh positif melampaui target (RPJMD sebesar 11,59 persen), yakni mencapai 13,73, yang didorong oleh peningkatan investasi di sektor industri pengolahan dan pertambangan baik Penanaman Modal Asing maupun Penanaman Modal Dalam Negeri. Neraca Perdagangan Maluku Utara surplus US$6,9 miliar selama tahun 2024.
“Inflasi yang terkendali di level 1,50 persen, jauh di bawah target RPJMD sebesar 2,25 persen, memberikan sinyal positif bagi daya beli masyarakat dan stabilitas harga,” jelasnya.
Sedangkan perekonomian Maluku Utara pada tahun 2025 dan 2026 dipastikan akan memiliki kinerja positif mengalami akselerasi dibanding tahun 2024. Penyumbang utama pertumbuhan ini adalah dari sisi produksi menurut lapangan usaha adalah industri pengolahan, lapangan usaha pertambangan dan penggalian serta lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan.
“Dari sisi permintaan menurut pengeluaran masih akan ditopang oleh komponen ekspor barang dan jasa, komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) serta pengeluaran konsumsi rumah tangga. Diharapkan kenaikan upah minimum dan bantuan sosial pemerintah menjadi faktor pendorong utama peningkatan konsumsi rumah tangga di tengah tantangan ekonomi global dan inflasi, peningkatan konsumsi rumah tangga menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih terjaga,” sebutnya.
Dengan mempertimbangkan kondisi saat ini, Pemprov Maluku Utara memproyeksikan laju pertumbuhan ekonomi 11,4 persen dari target tahun 2025, naik menjadi 12,1-13,8 persen di tahun 2026. Untuk Tingkat Pengangguran Terbuka 3,80 – 4,00 persen, turun menjadi 3,48-4,01 persen di tahun 2026. Sementara Tingkat Kemiskinan 4,95-5,15 persen di tahun 2025 turun menjadi 3,00-4,50 persen pada tahun 2026. Sedangkan Indeks Rasio Gini 0,280-0,297 tahun 2025, menjadi 0,270-0,286 di tahun 2026. Indeks Modal Manusia 0,480 tahun 2025 naik menjadi 0,487 tahun 2026.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!