Ekonomi Maluku Utara Mei 2025 : Neraca Perdagangan Surplus, Ekspor-Impor Didominasi Pertambangan

Ia mengungkapkan bahwa inflasi Maluku Utara pada Mei 2025 tercatat sebesar 1,89 persen (yoy), menurun dibandingkan April 2025 yang sempat mencapai 3,23 persen (mtm). Penurunan ini didorong oleh turunnya harga sejumlah bahan pangan seperti ikan segar, bawang merah, dan bawang putih. Namun, kenaikan harga cabai rawit, tarif angkutan udara, dan pulsa tetap menekan daya beli masyarakat.

Sementara itu, neraca perdagangan Maluku Utara tetap mencatatkan surplus besar sebesar USD 708,22 juta. Nilai ekspor mencapai USD 1,27 miliar, masih didominasi oleh ferronickel sebesar USD 3,64 miliar. Sementara impor, yang didominasi peralatan mesin pengolahan nikel, tercatat USD 563,91 juta.

BACA JUGA  DPRD Ternate Desak Pemkot Tindak Truck Besar yang Parkir di Tepi Jalan

“Komoditas ekspor non-tambang utama mencakup wood pellet (USD 4,02 juta), frozen tuna (USD 2,30 juta), dan kepiting bakau (USD 167,49 ribu),” ungkapnya.

Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan Maluku Utara pada Mei 2025 naik ke level 107,94, tumbuh 1,35 persen (mtm), didorong oleh subsektor hortikultura dan perkebunan rakyat. Namun, Nilai Tukar Nelayan (NTN) justru menurun 1,66 persen menjadi 99,05, akibat penurunan harga tangkapan laut seperti cakalang.

Per akhir Mei 2025, pendapatan negara di Maluku Utara mencapai Rp1,73 triliun atau 45,59 persen dari pagu, tumbuh 53,25 persen (yoy). Kontribusi terbesar berasal dari PPh Non-Migas sebesar Rp273,09 miliar dan sektor transportasi-pergudangan sebagai penyumbang dominan penerimaan pajak domestik.

BACA JUGA  Sosok Nasrul Asal Malifut Peraih Juara I STQH yang Ingin jadi Qori Internasional

Dari sisi belanja, realisasi mencapai Rp5,87 triliun dari pagu Rp17,74 triliun, namun mengalami kontraksi 11,82 persen (yoy), sehingga mencatatkan defisit anggaran sebesar Rp4,15 triliun. Efisiensi pada Belanja Pemerintah Pusat (BPP) dan Transfer ke Daerah (TKD) menjadi penyebab utama, masing-masing terkontraksi 31,00 persen dan 3,96 persen (yoy).

Kontraksi TKD paling tajam terjadi pada insentif fiskal (turun 42,82 persen yoy) dan dana desa (turun 15,14 persen yoy).

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah