Menata Ekonomi Baru, Siaga Menuju Generasi Perang Dunia Ketiga

Oleh : Mukhtar A. Adam (Ekonom Unkhair Ternate)

Dalam Dialog Penguatan Internal Polri yang diselenggarakan di wilayah hukum Polda Maluku Utara, tema besar yang diangkat adalah “Membangun Generasi Emas Maluku Utara yang Berkarakter, Berkompetensi, dan Berintegritas untuk Menyongsong Indonesia Maju,” di Hotel Bella, 25 Juni 2025.

Sebagai salah satu narasumber, saya diberi mandat membawakan topik “Pemberdayaan Ekonomi Lokal: Strategi Pembangunan Generasi Emas Maluku Utara yang Berkompeten.” Namun, melihat dinamika geopolitik global yang terus berkembang terutama ketegangan militer di Timur Tengah, tema tersebut berkembang menjadi “Menata Ekonomi Baru, Siaga Menuju Generasi Perang Dunia Ketiga.”

Timur Tengah dan Sinyal Global Konflik Besar

Ketegangan antara Iran dan Israel yang turut menyeret Amerika Serikat dan para sekutunya telah meningkatkan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Potensi merembetnya konflik ini ke berbagai belahan dunia memunculkan hipotesis baru: kita sedang memasuki babak awal dari kemungkinan Perang Dunia Ketiga.

Melihat sejarah, Maluku Utara tidak asing dengan dinamika geopolitik global. Pada abad ke-14 hingga 15, kawasan ini telah menjadi pusat kekuatan dunia lewat jalur perdagangan rempah, khususnya cengkeh. Setelah keruntuhan Kekaisaran Romawi Timur yang menguasai Konstantinopel (kini Istanbul), arus kolonialisme Eropa bergerak ke timur. Portugis datang ke Ternate, Spanyol ke Tidore, hingga akhirnya VOC mendominasi Nusantara.

Perdagangan cengkeh waktu itu bukan sekadar urusan komoditas, tetapi perebutan kendali atas pasar global. Generasi Maluku Utara kala itu adalah generasi global, pelintas samudra, yang menguasai pasar Pasifik dan Atlantik.

BACA JUGA  Mengapa Nilai UNBK Siswa Malut Rendah?

Dari Cengkeh ke Nikel: Posisi Strategis Maluku Utara

Saat ini, posisi strategis itu kembali terlihat, kali ini melalui komoditas nikel. Nikel Maluku Utara telah menjadi komponen penting dalam industri global, terutama untuk baterai kendaraan listrik dan teknologi bersih. Generasi masa kini berpeluang menjadi pemain penting dalam tatanan ekonomi baru, jika mampu menyesuaikan diri dengan dinamika pasar global.

Namun, konflik di Timur Tengah, meski mengkhawatirkan, secara langsung tidak berdampak besar pada perekonomian Indonesia. Nilai perdagangan Indonesia dengan Iran dan Israel masih relatif kecil: kontribusi ekspor hanya sekitar 1,8 persen dan impor 0,22 persen. Artinya, ancaman ekonomi global bukan semata konflik militer, melainkan perang dagang dan teknologi yang dampaknya jauh lebih luas.

Perang Dagang: Pertempuran Tanpa Peluru

Perang tarif antara Amerika Serikat dan Tiongkok, misalnya, memberi efek nyata terhadap ekonomi Indonesia. Kebijakan proteksionis Presiden Donald Trump, dengan peningkatan tarif impor sebagai bentuk perlindungan industri domestik, sempat memukul kurs rupiah dan memaksa pemerintah Indonesia melakukan penyesuaian fiskal terhadap APBN.

Ini adalah bentuk lain dari “Perang Dunia”,  perang tanpa peluru, tetapi berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional.

Bonus Demografi dan Tantangan Generasi Pasar Global

Indonesia saat ini tengah menikmati bonus demografi, dengan dominasi generasi milenial dan Gen-Z dalam populasi usia produktif. Ini adalah peluang emas. Namun untuk dapat berperan di panggung global, generasi ini harus dibekali bukan hanya dengan pendidikan formal, tapi juga etos kewirausahaan (entrepreneurship) yang kuat.

BACA JUGA  Moloku Kie Raha : Sumber Konflik Global

Dalam era persaingan global, kekuatan tidak lagi ditentukan oleh sumber daya alam semata, tetapi juga kreativitas ekonomi dan inovasi digital. Komoditas masa depan tidak hanya berbentuk fisik, tapi juga berbasis ide dan teknologi.

Menuju Revolusi Entrepreneur: Syarat Indonesia Menjadi Negara Maju

Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen per tahun dalam periode 2024–2029. Target ini menjadi landasan untuk membawa Indonesia naik kelas menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita mencapai USD 30.000 per tahun, jauh melampaui posisi saat ini yang masih di kisaran USD 4.900.

Untuk mencapainya, saya mengusulkan Revolusi Entrepreneur sebagai syarat utama. Revolusi ini adalah kelanjutan dari revolusi industri dan digital, namun berfokus pada penciptaan generasi wirausaha yang mampu bertarung di pasar global.

Revolusi ini akan menggeser pola ekonomi konvensional menuju ekonomi digital, menciptakan “Kampung Global”,  satu ekosistem pasar digital lintas negara dan lintas benua. Di sinilah generasi Maluku Utara harus siap menjadi bagian dari barisan depan.

Generasi Masa Depan adalah Generasi Perang Pasar

Perang dunia ketiga  mungkin tidak dimulai dengan senjata, tapi dengan dominasi teknologi, kekuatan pasar, dan penguasaan informasi. Siapa yang menguasai pasar, menguasai dunia.

Maluku Utara punya sejarah sebagai pemain global. Kini saatnya kita menata ekonomi baru dan membentuk generasi baru, yakni generasi yang bukan hanya siap menghadapi konflik dunia, tapi juga siap menjadi pemenang dalam pertempuran pasar global. ***

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah