Sultan Zainal Abidin Syah dan Organisasi Bayangan ‘Pembebasan Irian Barat’

Mulai pada saat itu, berbagai tekanan dilakukan Republik Indonesia pada Belanda, bail melalui perundingan maupun melalui kekuatan militer. Kekuatan militer yang dikerahkan dari Tidore (dari Dermaga laut Goto/Trikor) berangkat pasukan (PG) 500 yang dipimpin oleh Letnan Infantri J. Kumontoi ke daerah perbatasan. Pasukan itu berhasil mengibarkan bendera merah putih di pantai Saoka, daerah kepala burung Irian Barat.

Dari dermaga itu pula berangkat pasukan gerilya PG 400 bersama Srikandi Herlina yang ditugaskan oleh komando Mandala sebagai pimpinan penerangan mandala yang diterjunkan ke Irian Barat melalui Pulau Gebe. Di mana terdapat pos militer yang melatih para pemuda untuk tugas infiltrasi ke Irian Barat.

Untuk memenuhi kebutuhan pokok para gerilyawan, masyarakat Tidore dengan sukarela menyiapkan berbagai jenis makanan diletakkan di halaman rumah untuk diangkut dengan perahu ke daerah gerilyawan itu berada.

“Rupanya tekanan militer telah mempengaruhi secara langsung keputusan Belanda untuk tetap mempertahankan Irian Barat,” lanjutnya.

Atas campur tangan Presiden Amerika Serikat, Kennedy, melalui perundingan antara Indonesia dan Belanda, akhirnya mendapat kesepakatan melalui perjanjian New York pada 15 Agustus 1962.

Setelah pengesahan persetujuan antara Indonesia dan Belanda, maka pemerintah sementara yang dibentuk oleh PBB (United Nation Temporary Executive Authority Untea) tiba di Irian Barat melakukan serah terima pemerintahan dari tangan Belanda pada 1 Oktober 1962.

BACA JUGA  Serahkan Kartu BPJS Gratis untuk 9 Warga, Pj Kades Dege : Ini Bentuk Kepedulian Pemkab Taliabu Terhadap Pelayanan Kesehatan

Melalui Untea pada 1 Mei 1963 dilakukan serah terima pemerintahan ke tangan Republik Indonesia. Mulai saat itu, Irian Barat resmi menjadi sebuah provinsi ke 26 dengan Ibu Kota Sukarnopura (sekarang Jayapura).

“Dengan ditetapkan Irian Barat sebagai provinsi dengan Ibu Kota Jayapura, maka Tidore tidak lagi merupakan provinsi perjuangan Irian Barat dan SoaSio kembali menjadi ibu kota kesultanan Tidore,” terangnya.

Sejak 4 Mei 1961, gubernur pertama provinsi perjuangan Irian Barat dan dilakukan serah terima jabatan dengan kolonel Pamuji sebagai wakil. Sementara, Sultan Zainal Abidin Syah diangkat sebagai gubernur Departemen Dalam Negeri.

Menteri Dalam Negeri RI Sonarjo melantik Zainal Abidin Syah sebagai Gubernur Irian Barat. Hadir dalam pelantikan itu Menteri Penerangan Soedibjo dan para pembesar lainnya dari pusat dan daerah. (Dok : Arsip RI)

Pada 1962, Sultan Zainal Abidin Syah diperbantukan pada panglima Mandala di Makassar dalam status sebagai Sultan Tidore. Penetapan Sultan Zainal Abidin Syah pada Komando Mendalam tentu mempunyai tujuan tertentu. Sebab, sebagai seorang Sultan Tidore dan gubernur pertama provinsi perjuangan Irian Barat, ia masih mempunyai pengaruh luas.

Pada 1 Juni 1963, Sultan Zainal Abidin Syah menjalani masa bebas tugas setelah Irian Barat resmi menjadi bagian dari NKRI pada 1 Mei 1963. Ia menjabat sebagai Sultan Tidore sampai 30 Juni 1967.

BACA JUGA  Update Harga Barito di Ternate Per 4 Maret 2025, Cabai Naik Gila-gilaan

Sultan Zainal Abidin Syah meninggal pada 1 Juli 1967 di Ambon. Ia dimakamkan di Makam Pahlawan Kapahaha Ambon dengan upacara militer. Pada 11 Maret 1986 oleh keluarga kesultanan jenazah almarhum dipindahkan ke Soa-Sio Tidore. Jenazah sempat disemayamkan di Sonyine Soloka (pelataran emas) Kedaton Kie Soa-Sio Kesultanan Tidore.

“Yang menarik adalah bahwa ikatan antara Tidore dan Papua sampai saat ini masih merupakan satu modal sosial yang tidak terlupakan. Hubungan ini dapat dilihat pada setiap perayaan hari ulang tahun Kota Tidore Kepulauan 12 April, biasanya turut dihadiri oleh utusan dari Papua dengan mengenakan pakaian adat,” tutur Mus Huliselan.

Ia lalu menyimpulkan bahwa Zainal Abidin Syah sebagai seorang Sultan maupun gubernur pertama provinsi perjuangan Irian Barat adalah seorang tokoh bangsa yang setia dan berbakti kepada NKRI.

“Tanpa Zainal Abidin Syah perjalanan sejarah perjuangan pengembalian Irian Barat akan berjalan lain dari yang kita telah alami,” tutur Mus Huliselan.

Dia mengatakan, apapun Zainal Abidin Syah telah berjasa untuk bangsa dan negara. Terutama yang berkaitan dengan persatuan dan kesatuan bangsa dari Sabang sampai Merauke. Dengan demikian, apa yang kita kenal sebagai NKRI saat ini dan kedepan sebagian daripadanya adalah hasil investasi yang diamalkan Zainal Abidin Syah.

“Untuk pengabdiannya selalu dikenang oleh masyarakat Tidore, maka saat ini namanya telah diabadikan pada salah satu jalan utama di Soasio,” tutupnya. (Redaksi)

Baca Artikel Terkait

https://dev.haliyora.id/2025/06/23/gubernur-pertama-irian-barat-kembali-diusulkan-jadi-pahlawan-nasional/
chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah