Senada dengan Merlisa, Ketua Komisi IV DPRD Malut, Muhajirin Bailusy, mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk segera berkolaborasi dalam membentuk tim penelitian independen guna melakukan penelitian mendalam terkait masalah pencemaran di kawasan tersebut.
Menurutnya, langkah ini harus dianggap sebagai tindakan serius, mengingat dampak jangka panjang yang dapat mengancam kesehatan masyarakat setempat.
“Saya meminta kepada Pemprov dan Pemda, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), serta Dinas Kesehatan, untuk segera membentuk tim penelitian independen. Penelitian tentang polusi ini perlu dilakukan dengan standar akademik yang jelas. Jika hari ini datanya menunjukkan angka tertentu, tahun depan bisa berkembang menjadi dua, dan itu jelas mengancam kesehatan masyarakat di Teluk Weda,” ungkap Muhajirin, Kamis (12/6/2025).
Muhajirin juga menyentil pentingnya peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam tim penelitian tersebut. Ia mengingatkan agar para akademisi tidak hanya melihat angka polusi berdasarkan baku mutu, sebab polusi dapat memiliki dampak yang lebih luas meskipun belum mencapai ambang batas tertentu.
Sebagai seorang sarjana dari Perikanan Fakultas Unkhair, Muhajirin menyatakan bahwa dampak polusi saat ini akan berdampak serius bagi kesehatan generasi mendatang. Ia mendesak agar masalah ini ditindaklanjuti sebelum terlambat.
“Masalahnya adalah setelah kegiatan penambangan berhenti, limbah polusi akan dibiarkan dan diwariskan kepada generasi mendatang yang tinggal di Teluk Weda. Untuk itu, kita harus segera mengantisipasinya. Baik itu 0,1 maupun angka lainnya, kita harus mencegahnya mencapai ambang batas. Tim independen ini sangat penting untuk menguji pencemaran meskipun berada di bawah standar,” paparnya.
Selain itu, Muhajirin mengingatkan pihak tambang agar bertanggung jawab melakukan pengujian terkait dampak limbah mereka. Hasil penelitian dari Nexus 3 dan Universitas Tadulako menunjukkan adanya akumulasi logam berat dalam tubuh warga yang disebabkan oleh kontaminasi ikan.
“Pihak tambang umumnya melakukan uji coba pada ikan mujair, yang memiliki ketahanan lebih terhadap limbah dibandingkan ikan laut lainnya. Namun, jika ikan yang dikonsumsi oleh masyarakat tercemar, maka logam berat akan terakumulasi dalam tubuh manusia. Jadi, siapa pun yang mengonsumsi ikan di Teluk Weda berisiko tinggi untuk menemukan logam berat di dalam tubuh mereka,” tutupnya. (RS/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!