Pangan lokal yang dimaksud terdiri dari lima jenis komoditas utama seperti umbi-umbian, singkong, sagu, jagung dan sukun. Lima komoditas ini tentunya akan menjadi makanan tambahan selain beras sebagai langkah menghadapi kerentanan rawan pangan di maluku Utara.
“Pangan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat Maluku Utara secara umum adalah beras, dan data menunjukkan bahwa sebanyak 85 persen beras masih didatangkan dari luar daerah terutama dari Jawa Timur dan Sulawesi, sementara beras dari sentra-sentra produksi Maluku Utara hanya sanggup menghasilkan beras sebanyak 15 persen dari seluruh total konsumsi masyarakat Maluku Utara,” tutur Asrul.
Menanggapi dengan adanya 49 kecamatan di Maluku Utara yang saat ini mengalami rentan kerawanan pangan, Asrul berharap ada kolaborasi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota guna mengawal secara bersama kegiatan pertanian untuk mendukung produktivitas.
“Kami dari pemerintah provinsi dalam hal ini adalah dinas teknis, berharap ada kolaborasi bersama sehingga soal rentan terhadap kerawanan pangan ini bisa ditanggapi bersama, karena soal pangan ini soal hajat hidup orang banyak,” ujarnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!