Legenda Telaga Biru, Konon Tercipta dari Air Mata Wanita yang Ditinggal Mati Sang Pacar

Dulu, ia melanjutkan, ada sepasang kekasih yang berjanji untuk sehidup semati. Mereka bernama Majojaru (perempuan) dan Magohiduuru (laki-laki). Suatu hari Magohiduuru pergi berkelana ke negeri seberang, selama hampir satu tahun Magohiduuru belum juga kembali. Majojaru yang terus menunggu dengan setia lama kelamaan menjadi cemas. Suatu hari Majojaru melihat kapal yang dinaiki Magohiduuru datang. Namun setelah bertanya ke awak kapal dia mendengar bahwa Magohiduuru sudah meninggal dunia ketika pergi di negeri seberang.

Mendengar kabar tentang Magohiduuru, Majojaru terhempas ke tanah. Kabar yang didengarnya membuat dia seakan-akan kehilangan dirinya sendiri dan tujuan hidupnya.

Hati yang sedih menyelimuti raut muka Majojaru, muka yang tidak punya harapan hidup tampak dari raut wajahnya. Dengan perlahan-lahan di berjalan menuju ke rumahnya, di tengah perjalanan, dia berteduh di sebuah pohon dan bebatuan. Merenung dan meratapi nasibnya, pikirannya melayang-layang, lalu teringat akan kekasihnya Magohiduuru.

BACA JUGA  Soal Renovasi Kantor Dinsos PPA, Plt Kadis PUPR Morotai Sebut Begini

Air matanya keluar setetes demi setetes, hingga tiga hari tiga malam telah terlewati, air matanya yang terus mengalir, lama-kelamaan, semakin banyak hingga menggenangi dirinya sendiri. Majojaru larut dalam kesedihan, dan tanpa di sadari air matanya menggenang tinggi, hingga menenggelamkan bebatuan tempat ia duduk. Lama kelamaan ia pun ikut tenggelam dan meninggal dunia di sana.

BACA JUGA  Piet Berpeluang Amankan Rekomendasi Golkar ke Pilkada Halut
Kawasan wisata Telaga Biru. Telaga ini terletak di Desa Pune, Kecamatan Galela Induk, Kabupaten Halmahera Utara. (Foto/Risal Sadoki)

Telaga ini pun terbentuk dari air mata Majojaru. Penduduk dusun Lisawa pun berkabung. Mereka berjanji akan menjaga dan memelihara telaga itu. Konon, telaga yang berasal dari tetesan air mata itu lama-kelamaan airnya berubah menjadi kebiru-biruan, sehingga penduduk di daerah sana memberi nama Telaga Biru. Cerita ini melegenda turun-temurun hingga sekarang.

Sampai keasikan kami bercerita, ternyata waktu sudah menunjukan pukul 16.00 Wit, karena yang lain sudah kedinginan maka kami memutuskan untuk pulang. Di perjalanan pulang, saya masih berpikir tentang cerita yang disampaikan penjaga karcis tadi, mitos atau fakta? Bagaimana denganmu?.***

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah