“Spanduk di dalam stadion sepak bola itu bagian dari ekspresi pendukung atau suporter yang merasa tidak adil dalam dinamika suatu turnamen, itu hal yang wajar, tetapi tiba-tiba kami disuruh menurunkan spanduk itu,” sesalnya.
Abdul lantas membeberkan bahwa salah satu bentuk intervensi oknum di Pemkot yang begitu kental yakni ada salah satu suporter yang mengenakan kaos tim lain yang mendapat ancaman bakal diberhentikan sebagai pegawai honorer.
“Gara-gara pake baju suporter salah satu tim, ada ASN yang dapat ancaman SK mutasi ke Oba Selatan, jika dia honorer maka diberhentikan,” bebernya.
Abdul berharap kedepan tidak ada lagi intervensi politik di dalam sepak bola, karena nanti akan membunuh semangat dan mencoreng citra iven sepak bola.
“Harapan kami kedepan tidak ada intervensi politik di dalam sepak bola, karena itu akan membunuh semangat dan harapan kami untuk masa depan sepak bola khususnya di Tikep dan mencoreng citra sebuah event,” tandasnya. (RY-2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!