Ternate, Maluku Utara- BPS Maluku Utara menyebutkan, berdasarkan hasil survei Kerangka Sampel Area (KSA), realisasi panen padi sepanjang Januari hingga Desember 2021 seluas 7.782 hektar, atau mengalami penurunan sekitar 2.520 hektar, atau 24,46 persen dibandingkan 2020 yang mencapai 10.302 hektar.
Puncak panen padi pada tahun 2021 mengalami pergeseran dibandingkan pada tahun 2020. Puncak panen terjadi pada bulan Januari 2021 di lahan seluas 1.880 hektar, sementara puncak panen pada 2020 terjadi pada bulan Juli di lahan seluas 2.008 hektar.
Itu disampaikan Kepala BPS Maluku Utara, Aidil Adha melalui rilis yang diterima Haliyora, Kamis (17/03/2022).
Sementara, sambung Aidil, luas panen padi pada Januari 2022 mencapai 1.160 hektar dan potensi panen sepanjang Februari hingga April 2022 diperkirakan seluas 2.434 hektar.
“Dengan demikian, total luas panen padi pada Subround Januari-April 2022 diperkirakan mencapai 3.539 hektar, atau mengalami penurunan sekitar 1.114 hektar (23,67 persen) dibandingkan luas panen padi pada Subround Januari-April 2021 yang sebesar 4.708 hektar,” katanya.
Dikatakan, produksi padi di Provinsi Maluku Utara sepanjang Januari hingga Desember 2021 mencapai sekitar 28.051 ton GKG, atau mengalami penurunan sekitar 15.332 ton GKG atau 35.34 persen dibandingkan 2020 sebesar 43.383 ton GKG. Produksi padi tertinggi pada 2021 terjadi pada bulan Januari sebesar 7.242 ton GKG, sementara produksi terendah terjadi pada bulan Desember sebesar 117 ton GKG.
“Berbeda dengan kondisi pada 2021, produksi padi tertinggi pada 2020 terjadi pada bulan Juli,” ucapnya.
Aidil menyebutkan, penurunan produksi padi yang cukup besar pada 2021 terjadi di beberapa wilayah potensi penghasil padi, seperti Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Pulau Morotai, dan Kabupaten Halmahera Selatan.
Sedangkan beberapa kabupaten/kota mengalami peningkatan produksi padi, seperti Kabupaten Halmahera Utara dan Kabupaten Halmahera Tengah.
Aidil merinci, tiga kabupaten dengan total produksi padi (GKG) tertinggi pada 2021 adalah Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Halmahera Utara, dan Kabupaten Pulau Morotai. Sementara tiga kabupaten/kota dengan produksi padi terendah ialah Kota Tidore Kepulauan, Kabupaten Kepulauan Sula dan Kabupaten Halmahera Selatan.
“Jika perkembangan produksi padi selama tahun 2021 dilihat menurut subround, terjadi penurunan produksi padi secara berturut-turut pada subround Mei-Agustus 2021 dan September-Desember 2021, yaitu masing-masing sebesar 12.312 ton GKG (63,63 persen) dan 6.005 ton GKG (77.29 persen) dibandingkan periode yang sama pada 2020,” sebutnya.
Menurutnya, penurunan produksi padi tersebut disumbang oleh penurunan luas panen yang terjadi pada subround Mei-Agustus yang sebesar 1.855 hektar (43,55 persen) dan subround September-Desember yang sebesar 1.293 hektar (65,84 persen).
Di sisi lain, peningkatan produksi padi hanya terjadi pada subround Januari-April 2021, yaitu sekitar 627 ton GKG (15,38 persen) dibandingkan periode yang sama pada 2020.
Meski begitu, sambung Aidil, pada Januari 2022, produksi padi diperkirakan sebesar 4.695 ton GKG, dan potensi produksi padi sepanjang Februari hingga April 2022 mencapai 10.076 ton GKG.
Dengan demikian, total potensi produksi padi pada subround Januari-April 2022 diperkirakan mencapai 14.771 ton GKG, atau mengalami penurunan sebanyak 4.478 ton GKG (23,26 persen), dibandingkan 2021 yang sebesar 19.249 ton GKG.
“Potensi penurunan produksi padi yang relatif besar pada subround Januari-April 2022 dibandingkan subround yang sama pada 2021 terjadi di Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Pulau Morotai, dan Kabupaten Halmahera Selatan,” tambah Aidil
Disebutkan, jika produksi padi dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, maka produksi padi sepanjang Januari hingga Desember 2021 setara dengan 15.697 ton beras, atau mengalami penurunan sebesar 8.710 ton (35.88 persen) dibandingkan 2020 yang sebesar 24.277 ton.
Ia menambahkan produksi beras tertinggi pada 2021 terjadi pada bulan Januari sebesar 4.052 ton. Sedangkan produksi beras terendah terjadi pada bulan Desember sebesar 65 ton. Ini berbeda dengan tahun 2021. Produksi beras tertinggi pada 2020 terjadi pada bulan Juli.
“Pada bulan Januari 2022 produksi beras diperkirakan sebanyak 2.627 ton beras, dan potensi produksi beras sepanjang Februari hingga April 2022 adalah sebesar 5.639 ton. Dengan demikian, potensi produksi beras pada subround Januari-April 2022 diperkirakan mencapai 8.266 ton beras atau mengalami penurunan sebesar 2.506 ton (23,26 persen) dibandingkan dengan produksi beras pada Januari-April 2021 yang sebesar 10.772 ton beras,” pungkasnya. (Arul-1)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!