Sanana, Maluku Utara – Proyek pembangunan Madrasah Tsanawiyah (MTS) di Desa Buya, Kecamatan Mangoli Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, berubah menjadi ironi pembangunan. Alih-alih segera difungsikan untuk kegiatan belajar, gedung senilai lebih dari Rp 1 miliar itu justru dipalang oleh pekerja.
Aksi pemalangan dilakukan sebagai bentuk protes terhadap kontraktor yang belum melunasi kewajiban pembayaran material dan upah kerja. Hingga kini, akses ke bangunan masih tertutup, sementara jadwal aktivitas belajar disebut-sebut akan segera dimulai.
Salah satu pekerja, Anjar Pawah, menegaskan sikap mereka tidak akan berubah sebelum seluruh tunggakan diselesaikan. “Data pembayaran sudah kami serahkan ke pihak sekolah dan Kemenag. Tapi kami tidak akan buka sebelum kontraktor melunasi semua kewajiban,” kata Anjar, Minggu (29/3/2026).
Situasi ini menempatkan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sula dalam posisi sulit. Gedung yang seharusnya segera diserahterimakan justru terkunci konflik antara pekerja dan kontraktor.
Kepala Kemenag Kabupaten Sula, La Sengka La Dadu, mengaku pihaknya telah berupaya melakukan koordinasi hingga ke tingkat provinsi. Namun, komunikasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) justru menemui jalan buntu.
“Kami sudah kirim data ke Kanwil dan diarahkan koordinasi dengan PUPR. Tapi sampai sekarang kami bahkan belum mendapatkan nomor kontak mereka,” ujarnya, Minggu (29/3/2026).

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!