7 Hari Pasca Banjir di Waisakai Sula, Pengungsi Bertahan Tanpa Air Bersih dan Kepastian

Sanana, Maluku Utara – Memasuki hari ketujuh pasca banjir bandang yang menerjang Desa Waisakai, Kecamatan Mangoli Utara Timur, Kabupaten Kepulauan Sula, penderitaan warga belum juga mereda. Selain kerusakan infrastruktur dan permukiman, krisis air bersih kini menjadi ancaman paling mendesak bagi ratusan warga terdampak.

Kepala Desa Waisakai, Mashun Umasugi, menyebutkan distribusi air bersih lumpuh total setelah pipa utama rusak dihantam arus banjir. Akibatnya, warga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

“Pipa utama rusak, sehingga warga kesulitan mendapatkan air bersih,” kata Mashun, Selasa (17/3/2026).

Di tengah keterbatasan tersebut, sebagian besar warga masih bertahan di pengungsian. Rumah-rumah mereka belum dapat ditempati karena dipenuhi lumpur dan material sisa banjir yang belum dibersihkan.

Salah satu warga terdampak, Suleman Umagap, mengaku harus tinggal bersama 11 anggota keluarganya dalam satu ruangan darurat di gedung sekolah. Kondisi itu memperburuk situasi kesehatan dan kenyamanan para pengungsi.

BACA JUGA  Sosialisasi Pencegahan Stunting di Mangsel, Sekda Sula Tekankan Ini ke Kader Posyandu

“Kami belum bisa kembali ke rumah. Lumpur masih menutupi seluruh bagian rumah,” ujarnya.

Ia menilai proses penanganan pasca bencana berjalan lambat, terutama dalam pembersihan lingkungan. Warga berharap adanya tambahan tenaga dari aparat dan relawan untuk mempercepat pemulihan.

Harapan serupa juga disampaikan terkait normalisasi sungai yang hingga kini belum berjalan. Alat berat yang dijanjikan untuk membersihkan aliran sungai dilaporkan belum tiba di lokasi dan masih berada di Desa Kawata. “Sudah tujuh hari, tapi alat berat belum juga sampai,” kata Suleman.

Kondisi ini memperpanjang ketidakpastian warga, terutama di tengah ancaman cuaca yang masih berpotensi memicu banjir susulan.

BACA JUGA  Pesan Tegas Gubernur Malut: Sasar Pimpinan OPD Definitif

Disisi lain, layanan kesehatan di posko pengungsian dilaporkan masih berjalan baik dengan ketersediaan obat-obatan yang mencukupi. Namun, tanpa akses air bersih, risiko penyakit berbasis lingkungan diperkirakan meningkat.

Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat, banjir bandang tersebut merusak tanggul penahan sepanjang 300 meter. Sebanyak dua rumah warga ambruk, 13 unit mengalami rusak berat, dan 20 lainnya rusak ringan.

Selain itu, satu unit jembatan desa dilaporkan putus, memperparah keterisolasian wilayah terdampak.

Secara keseluruhan, bencana ini berdampak pada 59 kepala keluarga atau 304 jiwa yang hingga kini masih mengungsi.

Lambannya distribusi peralatan dan terbatasnya akses air bersih menambah daftar persoalan yang harus segera direspons. Tanpa percepatan penanganan, krisis kemanusiaan di Waisakai berpotensi memburuk. (RMT/Red)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah