Mas Agus dan Nuansa Pasar Senthir: Sisa Kota di Tengah Jogja yang Menolak Mati

Senja di Malioboro selalu gaduh dengan caranya sendiri. Musik pengamen saling bertabrakan, langkah kaki berpacu dengan niat belanja, dan asap rokok melayang seperti awan kecil yang tak pernah benar-benar ingin menurunkan hujan. Namun, ketika keramaian itu perlahan ditinggalkan, sebuah kehidupan lain justru mulai menyala di sudut selatan Pasar Beringharjo, Yogyakarta.

Di bekas area parkir motor yang kehilangan fungsinya, Pasar Senthir atau Pasar Klithikan Sentir menggelar denyut malamnya. Bukan pasar megah, tanpa dinding, tanpa atap tetap, hanya langit yang menjadi pelindung. Jika hujan turun, pasar ini tahu diri, bubar tanpa protes. Alam adalah pemegang keputusan tertinggi.

Mas Agus sudah berada di sana sejak sore beranjak malam. Ia bukan pedagang yang tergesa oleh waktu, tapi juga tak pernah sepenuhnya santai. Tangannya sibuk merapikan barang dagangan, buku-buku lawas dan benda-benda yang tampak pernah berjaya di masanya. Matanya sesekali mengikuti arus manusia yang datang dan pergi.

“Nama Senthir itu dari lampu minyak,” ujar Mas Agus sambil menyalakan rokok. “Dulu penerangannya cuma itu.”

Kini, lampu neon memang menggantikan senthir. Namun fungsinya tetap sama, sekadar menerangi barang dagangan. Kenangan masa lalu di pasar ini tak pernah benar-benar pergi, hanya berganti bentuk.

BACA JUGA  OJK dan Ratu Maxima Sepakati Pengembangan Program Financial Health di Indonesia

Tak ada catatan pasti kapan Pasar Senthir berdiri. Mas Agus hanya mengingat, para pedagang sudah menempati tempat ini sejak sekitar tahun 2000. Lebih dari dua dekade berlalu, pasar ini tetap hidup, barangkali karena ia tak pernah memaksa zaman untuk tunduk kepadanya.

Setiap malam, pukul 20.00 hingga 23.00 WIB, kawasan ini dipenuhi pemburu barang murah dan antik. Harga-harganya bersahabat, seolah memahami bahwa dompet manusia pun punya batas kesabaran.

Reza, mahasiswa asal Surabaya, menyebut Pasar Senthir sebagai ruang langka tempat manusia dan alam berjalan beriringan. “Murah, tradisional, dan suasananya jarang bisa ditemui dalam satu tempat,” katanya.

Keberadaan Pasar Senthir juga tak bisa dilepaskan dari lokasinya yang bersejarah, kawasan Serangan Umum 1 Maret 1949. Seakan mengingatkan bahwa perjuangan tak selalu berbentuk senjata. Kadang, ia hadir dalam bentuk bertahan, tetap membuka lapak meski penghasilan tak pernah pasti.

Pendapatan Mas Agus per malam berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 200.000. Tidak menjanjikan, tapi cukup. Cukup untuk hidup, dan cukup untuk mempertahankan keyakinan bahwa pasar ini masih memiliki arti bagi dirinya dan keluarganya.

BACA JUGA  Imbas Putusan MK, Jabatan Anggota DPRD Bisa Diperpanjang

Barang dagangan di Pasar Senthir beragam. Dari pakaian bekas hingga alat elektronik, dari barang remeh sampai yang menyimpan nilai sejarah. Semuanya bercampur, seperti kehidupan di tempat ini tak selalu rapi, tapi nyata.

Menjelang pukul 23.00 WIB, pengunjung mulai berkurang. Pedagang merapikan lapak, Mas Agus mematikan rokoknya, melipat barang-barang yang belum laku, lalu bersiap menunggu malam berikutnya.

Saya pulang membawa sebuah buku dari lapak Mas Agus dan sebuah gelang dari pedagang lain. Barang kecil, namun cukup untuk mengikat ingatan. Lagipula, isi kantung memang hanya sanggup membeli itu.

Pasar Senthir mungkin bukan pasar besar. Namun di kota yang kian sibuk, nuansa tradisional justru menjadi barang antik paling mahal. Dan Pasar Klithikan Sentir, dengan segala kesederhanaannya, masih setia menjaganya di antara sisa waktu, sisa ruang, dan sisa perhatian kota. ***

Penulis : Risal Sadoki

Editor : A. Achmad Yono

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah