Perjalanan, Sampah, dan Kesadaran Berlayar Bersama

- Editor

Minggu, 11 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perahu yang mengantar wisatawan menuju pulau Gosong. Foto ini diabadikan saat kapal hendak berlabuh di pelabuhan Anging Mammiri, Makassar, Sulawesi Selatan. Terlihat Masjid 99 Kubah Asmaul Husna berdiri megah dari kejauhan. (Foto: Jeje/Risal Sadoki)

Perahu yang mengantar wisatawan menuju pulau Gosong. Foto ini diabadikan saat kapal hendak berlabuh di pelabuhan Anging Mammiri, Makassar, Sulawesi Selatan. Terlihat Masjid 99 Kubah Asmaul Husna berdiri megah dari kejauhan. (Foto: Jeje/Risal Sadoki)

Saya ingin melihat Indonesia dari langkah kaki sendiri. Karena kalau dari langkah kaki orang lain, saya selalu curiga. Pikiran itu sering membuat saya tersenyum sendiri.

Soe Hok Gie pernah berkata, “Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah.” Kalimat itu barangkali sudah terlalu sering dikutip. Tapi justru karena sering itulah, ia menjadi seperti jembatan yang terus memutuskan keraguan.

Maka saya pun nekat. Mengumpulkan keberanian yang tak seberapa, menjual Slank, motor kesayangan saya, Honda C-70. Lalu keluar dari rumah dengan doa dan harap semoga ini tidak sia-sia. Dan semoga Slank betah dengan tuan barunya. Soal menjual motor itu, rasanya seperti minum air garam di tengah laut. Tapi saya sudah ikhlas, dan keikhlasan memang sering lahir dari keterpaksaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akhir 2025, saya pamit sejenak dari kampung halaman. Modalnya satu, uang hasil menjual motor. Sisanya adalah harap-harap cemas yang disimpan rapi di saku belakang.

Di Ternate, kapal yang akan membawa saya ternyata KM Nggapulu, kapal Pelni yang namanya sering disebut orang ketika pelayaran. Hari itu rupanya Tuhan sedang bercanda. Tiket habis. Yang tersisa hanya kategori non seat, tanpa tempat tidur, tanpa kepastian, tanpa banyak pilihan. Harga tiketnya Rp 750.000 untuk rute Ternate–Surabaya. Saya langsung membayangkan lorong-lorong kapal yang tak akan pernah benar-benar tidur, ramai nantinya.

Tanggal 29 Desember 2025, pukul delapan malam WIT, kapal bergerak meninggalkan Ternate menuju Ambon. Saat pagi datang, tepat tengah Laut Banda, burung-burung beterbangan mendekat, dan beberapa lumba-lumba berenang mengikuti kapal. Mereka seolah menyambut saya yang baru pertama kali melakukan perjalanan jauh. Atau saja mungkin mereka sekadar lewat, dan saya terlalu sentimental untuk menafsirkan.

BACA JUGA  Ini Peta Sebaran Covid-19 Kota Ternate per 22 Mei 2020

Pagi itu juga, seorang petugas kebersihan menyapu lorong kapal. Ia memungut sisa makanan, botol kosong, puntung rokok. Wajahnya terlihat marah, tapi marah yang sudah lelah. Saya bukan ahli membaca bahasa tubuh, tapi di kapal yang tempat sampahnya jelas-jelas tersedia, mestinya manusia tak perlu diajari cara bersikap seutuhnya.

Pemandangan itu terulang hampir setiap hari. Kesadaran rupanya masih menjadi barang langka, bahkan di tengah laut yang luasnya tak terbayangkan. Pengeras suara kapal tak pernah lelah mengingatkan: “Mohon kepada seluruh penumpang agar tidak membuang sampah sembarangan.” Tapi suara itu barangkali kalah nyaring dari kebiasaan.

Rute KM Nggapulu akhir Desember ini adalah Ambon, Namlea, Baubau, Makassar, Surabaya, dan berakhir di Tanjung Priok. Penumpangnya ribuan. Dengan skala seperti itu, kapal menyediakan makanan, air botol, dan camilan, semuanya dibungkus plastik, dibagikan tiga kali sehari.

Saat kapal melewati perairan Wakatobi, senja jatuh perlahan di pelukan cakrawala. Ada yang menikmatinya sambil tertawa, ada yang berdiam diri, dan saya, selain mengambil gambar, juga sibuk menghitung botol plastik yang mengapung di laut.

Taruhlah di kapal ada seribu penumpang, tiga kali makan sehari, berarti tiga ribu botol, tiga ribu plastik makanan, tiga ribu bungkus camilan. Itu baru satu hari. Sisanya silahkan hitung sendiri dalam setiap pelayaran kapal Pelni. Ribuan orang di dalamnya. Bayangan, berapa sampah yang dihasilkan.

Dua malam di atas kapal, Baubau akhirnya menyambut. Tepat pukul 23.57 WITA, kapal memasuki Pelabuhan Murhum. Dari kejauhan, patung Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi berdiri tegak, menunjuk ke arah kapal, seakan mengatakan selamat datang.

Langit Baubau malam itu penuh sisa-sisa kembang api. Kabut menggantung di udara. Penumpang berkerumun di pinggir kapal, merekam tahun baru dari balik pagar besi. Di darat, ratusan buruh pelabuhan telah bersiap. Bagi mereka, kapal sandar berarti kerja datang. Tahun baru atau bukan, perut tetap harus diisi.

BACA JUGA  Libatkan Jaksa, Perumda Ake Gaale Ternate Buru Tunggakan Pelanggan

Di gerbang pelabuhan, patung Sultan Murhum Khalifatul Khamis berdiri melambaikan tangan. Sultan ke-26 Buton, tokoh yang mengubah kerajaan menjadi kesultanan dan menjadikan Buton pusat syiar Islam. Sejarah di kota ini tidak disimpan di buku, tapi dipajang di depan mata.

Kapal sandar hampir tiga jam. Saya keluar membeli keperluan. Harga rokok di Baubau membuat saya mengangguk pelan. Sampoerna 12 batang seharga Rp 30.000. Saya cek tiga warung, hasilnya sama. Rupanya inflasi juga pandai berlayar.

Setelah pergi saya tertawa dan bergumam, “Satu bulan so bisa ba kredit oto.” Agak sentimen, tapi humor selalu lahir dari dompet yang tipis.

Dari Baubau, kapal lanjut ke Makassar. Hujan turun di tengah laut, dingin menyerang tanpa izin. Saya menggigil dan menyerah, masuk ke dalam kapal bersama penumpang lain yang kalah oleh cuaca.

Makassar menyambut sore. Masjid 99 Kubah Asmaul Husna tampak megah dari kejauhan, cantik, indah, dan membuat orang lupa sebentar pada lelah perjalanan.

Dari Makassar ke Surabaya, perjalanan berlanjut. Pukul satu dini hari saya tiba di Tanjung Perak. Karena kereta ke Yogyakarta baru berangkat pukul sepuluh pagi, saya melantai di lorong terminal.

Setelah empat hari di Yogyakarta, perhatian saya tertuju pada emperan jalan. Kota, ternyata, tidak selalu ramah. Kota hanya menyediakan ruang bagi mereka yang punya. Bagi yang dompetnya sering ragu saat dibuka, kota adalah ujian kesabaran, kadang juga mimpi buruk. ***

Penulis : Risal Sadoki

Editor : A. Achmad Yono

Berita Terkait

Memetik Hikmah dari Husra, Petani Jagung yang Sukses Mengolah Lahan Seluas 1,5 Hektar Demi Ekonomi Keluarga
Tambang Harus Tumbang : Suara Mereka yang Dihukum Karena Menolak Perusahaan Ekstraksi Nikel di Haltim
Ternate Membara, Affan Kurniawan dan 11 Warga Maba Sangaji jadi Pemantik
Balada Petani Kangkung Milenial, Menjaga Asa di Tengah Ketidakpastian Harga
Harapan Itu Hilang di Bukit Kasubibi
Prostitusi Menjamur di Kota Rempah
Soe Hok Gie, Alam dan Orientasi MAPALA Hari Ini
Terbitlah Terang, Datang Kekecewaan
Berita ini 57 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 11 Januari 2026 - 21:25 WIT

Perjalanan, Sampah, dan Kesadaran Berlayar Bersama

Rabu, 29 Oktober 2025 - 17:07 WIT

Memetik Hikmah dari Husra, Petani Jagung yang Sukses Mengolah Lahan Seluas 1,5 Hektar Demi Ekonomi Keluarga

Kamis, 16 Oktober 2025 - 18:56 WIT

Tambang Harus Tumbang : Suara Mereka yang Dihukum Karena Menolak Perusahaan Ekstraksi Nikel di Haltim

Senin, 1 September 2025 - 20:40 WIT

Ternate Membara, Affan Kurniawan dan 11 Warga Maba Sangaji jadi Pemantik

Senin, 18 Agustus 2025 - 20:54 WIT

Balada Petani Kangkung Milenial, Menjaga Asa di Tengah Ketidakpastian Harga

Berita Terbaru

Penyaluran bantuan meja dan kursi untuk sekolah di Kabupaten Pulau Taliabu

Pendidikan

Sarana Pendidikan Jadi Prioritas Disdik Pulau Taliabu

Rabu, 14 Jan 2026 - 11:07 WIT

Corong

Hutan Halmahera Utara dan Masa Depan Manusia

Rabu, 14 Jan 2026 - 10:37 WIT

Aktivitas bongkar muat di pelabuhan A. Yani, Ternate. (Sumber/Pelindo)

Ekobis

Sepanjang 2025, Arus Peti Kemas TPK Ternate Meningkat

Rabu, 14 Jan 2026 - 09:50 WIT

error: Konten diproteksi !!