Ternate, Maluku Utara – Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Maluku Utara menilai tingginya pertumbuhan ekonomi yang selama ini diklaim sebagai capaian spektakuler justru menutupi krisis ekologis dan sosial yang kian parah di daerah tersebut.
Dinamisator JATAM Maluku Utara, Julfikar Sangaji, menyampaikan bahwa catatan akhir tahun (Catahu) 2025 menunjukkan pertumbuhan ekonomi berbasis pertambangan khususnya nikel, tidak membawa kesejahteraan bagi masyarakat.
Sebaliknya, model pembangunan tersebut mempercepat perampasan ruang hidup, kerusakan lingkungan, serta pelanggaran hak asasi manusia secara sistemik.
“Maluku Utara berada di kawasan Cincin Api Pasifik dengan risiko gempa, letusan gunung api, dan tsunami yang tinggi. Namun wilayah yang secara ekologis sangat rentan ini justru dibebani ekspansi besar-besaran industri ekstraktif,” ujar Julfikar dalam siaran pers JATAM, Kamis (8/1/2026).

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!