Belakangan, harga yang ditetapkan PT. Nico kembali turun menjadi Rp 2.700 per butir. Turunnya harga dari perusahaan membuat harga yang diterima petani merosot lagi menjadi Rp 2.300–Rp 2.400 per butir.
Warga mengeluhkan turunnya harga ini, tetapi tidak punya pilihan lain. Mereka terpaksa tetap menjual karena kebutuhan ekonomi, ditambah tidak adanya perusahaan lain yang dapat membeli kelapa dari mereka setelah diberlakukannya pembatasan penjualan keluar daerah. “Mau bagaimana lagi, harga sudah ditetapkan mereka,” ungkap salah satu warga kepada media ini.
Hingga berita ini ditayangkan, wartawan media ini masih berupaya menghubungi pihak PT. Nico untuk memastikan harga yang sebenarnya. (RR/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!