Ia pun menyoroti kondisi Maluku Utara saat ini, provinsi yang saat ini mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia dengan angka 32 persen, tetapi masih menghadapi tantangan dalam konteks kesenjangan, indeks pembangunan manusia, angka kemiskinan, dan pengangguran.
“Maluku Utara ibarat di simpang jalan antara kemakmuran dan ketimpangan. Hilirisasi nikel harus memberi dampak luas, diversifikasi ekonomi wajib dikembangkan,” ujarnya.
Bima Arya menekankan bahwa pengelolaan APBD perlu diarahkan agar benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di daerah, tidak hanya mencatat angka pertumbuhan semata.
“Jadi pengelolaan APBD harus diarahkan agar benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat tidak hanya mencatat angka pertumbuhan semata,” pungkasnya. (RS/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!