Di sisi utara kota, jalan menuju Bandara Sultan Babullah diduduki Mahasiswa IAIN Ternate. Ternate seolah mengepung dirinya sendiri.
Pukul 14.00 WIT, tensi meninggi. Massa menuntut wakil rakyat hadir dan mendengar langsung. Tapi pintu parlemen tetap rapat. Dorongan terjadi, suara tak didengar, dan emosi meluap. Hingga akhirnya, pecah, bentrokan tak terhindarkan.
Seorang demonstran tersungkur. Keningnya pecah, darah menetes di aspal panas. Itu cukup menjadi pemantik. Batu pun melayang, ibarat hujan yang menandai peralihan damai ke chaos. Polisi membalas. Gas air mata dan pentungan jadi bahasa yang mereka pahami.
Saat situasi sedikit meredam, jam menunjukkan pukul 15.30 WIT. Di tengah puing dan jerit, sebagian massa dan aparat melaksanakan sholat berjamaah di tengah jalan, menghadap langit yang menyaksikan semuanya. Ternate kembali diam untuk sesaat.

Demo ini bukan hanya tentang Affan dan kenaikan tunjangan anggota DPR RI. Di tengah tuntutan, muncul nama-nama lain yang memperpanjang daftar luka. Mereka adalah 11 warga Maba Sangaji yang dikriminalisasi serta 7 warga Galela yang masih ditahan tanpa kepastian hukum oleh Polres Halmahera Barat.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!