“Nah siapa lagi yang menjaga negara ini, kalau bukan kita dan rakyat Indonesia. Sehingga dibentuklah Batalyon di Morotai, itu sebagai daerah latihan militer. Dengan begitu bisa memudahkan pada saat kegiatan terkait dengan pertahanan negara,” terangnya.
Perwira Menengah TNI Angkatan Darat itu menyatakan bahwa latihan akan mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang ketat untuk menghindari kerugian baik kepada masyarakat, personal maupun materil. Dan ini juga jauh dari perkebunan warga.
“Karena kita melihat dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Morotai maka itu sudah melalui riset dari arah mana yang bisa digunakan maupun tidak. Dalam arti dimana kawasan hutan lindung, dimana kawasan hutan retribusi dan dimana daerah yang boleh digunakan,” paparnya.
Ia juga memastikan bahwa latihan tidak akan menggunakan bahan peledak berat seperti bom. “Latihannya tidak menggunakan bom. Ini lebih pada latihan reguler bersama yang menggunakan senjata standar militer,” tegasnya.
Menanggapi kekhawatiran publik, Letkol Masykur menyatakan bahwa semuanya sudah diperhitungkan, seperti daerah latihan di wilayah Batu Raja, Sumatera Selatan, tidak mengganggu dan jauh dari keramaian penduduk karena sudah dibatasi. Karena itu, akan dilakukan sosialisasi menyeluruh kepada masyarakat sebelum kegiatan dimulai.
“Kami akan atur zona-zona latihan yang tidak boleh dilintasi masyarakat. Semua akan kami sosialisasikan secara terbuka agar tidak menimbulkan keresahan,” pungkasnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!