“Saya tidak punya pilihan,” bisik Ibu Leni lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam hiruk-pikuk pasar. “Kalau boleh, sebelum sampah ini menumpuk berhari-hari, bisa diangkat lebih cepat,” ucapnya saat ditemui wartawan, Senin, 28 April 2025.
Setiap pagi, perjuangan ibu Leni bukan hanya untuk menjual dagangannya, melainkan juga untuk bertahan dari bau busuk yang semakin tajam seiring matahari menanjak. Tumpukan kantong plastik berisi sisa sayur-mayur, kardus bekas, dan limbah makanan membusuk di sekitarnya. Tikus-tikus liar mengais isi kantong-kantong itu, sebagian bahkan menjadikan tumpukan sampah sebagai tempat berteduh.
Namun, ibu Leni tetap bertahan. “Kalau sudah menumpuk begini, setengah mati tahan baunya, tapi mau bagaimana lagi? Tempat lain tidak ada, di dalam pasar juga masih dalam perbaikan,” keluhnya dengan mata yang berkilat menahan getir.
Di balik keluhannya, tersimpan sebuah harapan sederhana yang ia titipkan kepada kami. “Tidak butuh banyak. Cukup kalau tempat sampah ini bisa dipindahkan, atau paling tidak, sampahnya jangan dibiarkan menumpuk. Itu saja sudah cukup,” pintanya, menolak saat kami hendak membayar pisang yang dagangannya. “Tolong sampaikan ini, makasih ya nak.”

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!