Ironisnya, Soe Hok Gie meninggal di atas gunung Semeru di ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (MDPL). Beberapa sumber menyebut bahwa Gie meninggal karena menghirup gas beracun. Secara paradoks, kita mungkin tidak bisa menerima hal ini.
“Kenapa.?” Adi membantah, baginya, memang kematian Soe Hok Gie itu karena menghirup gas beracun. Informasi ini umum diketahui mahasiswa di kampus.
Saya melanjutkan, mungkin saja Hok Gie adalah orang yang menarik perhatian pemerintahan Orde Baru untuk memburunya. Kita bisa mengklaim demikian berdasarkan bukti dari zaman yang otoriter, segala hal yang mengganggu keamanan harus dieksekusi. Bagaimana tidak.? Orde Baru (Orba) selalu meninggalkan catatan buruk bagi keberlangsungan hidup aktivis yang rajin mengkritik. Penghilangan nyawa seseorang di zaman Orba bukan lagi menjadi pertanyaan mendasar
Wajahnya sedikit sepakat. Bukan begitu.? Saya meyakinkan.
Kembali pada Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala). Jika melihat orientasi Mapala hari ini, justru tidak lagi sejalan dengan apa yang kemudian menjadi spirit Soe Hok Gie waktu itu. Bagi saya, Gie menjadikan alam sebagai tempat belajar serta mengumpulkan kekuatan ketika sehabis mendemo di kota dan juga kampusnya. Hal ini dilakukan sebagai perenungan panjang bagi kawan kawan yang mengkhianati perjuangan yang pernah mereka buat.
Mapala hari ini. Bagi saya, telah melenceng jauh dari amanat Gie. Walaupun Soe Hok Gie tidak pernah meninggalkan amanat demikian, tapi ini bisa dilihat dari aktivitas-aktivitas yang dilakukan Gie, seakan dia menyerukan agar semua Mapala hari ini harus bertindak dan berjuang demi kelangsungan alam yang tidak lagi seimbang.
Mapala hari ini, hampir segala aktivitasnya tidak berada pada ruang yang mengkritisi kebijakan terhadap eksploitasi alam yang terjadi secara terus menerus. Padahal, kalau mereka turut andil dalam mengkampanyekan kerusakan alam, secara tidak langsung mereka mempertahankan spirit perjuangan Sok Hok Gie. Sayangnya, Mapala hari ini tidak jauh dari sekadar aktivitas yang hanya menghabiskan uang tanpa mengisahkan apa-apa. Saya tidak berniat menyinggung mereka, tapi prospek inilah yang harus dipertimbangan kawan-kawan Mapala terhadap alam yang hari ini berada dalam kecaman pertambangan.
Adi, pendaki pemula yang sedari tadi menyimak, langsung sepakat.
Malam ini terlalu dingin. Untuk Soe Hok Gie, saya ingin menanyakan sesuatu hal jika dia ada di sini. Tidak terlalu sulit untuk dibayangkan, saya rasa dia pasti bisa mendengar, apalagi dia adalah orang yang mendirikan Mapala. Begini pertanyaannya, bagaimana pendapat Bung dengan orientasi Mapala hari ini?

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!