“Saya sudah berkunjung di salah satu Desa di Yogyakarta, mereka memanfaatkan buah Capilong sebagai sumber pendapatan bagi desanya. Setiap tahun desa itu berpendapatan bersih dalam berbisnis buah Capilong sebesar Rp 2 miliar per tahun,” tuturnya.
“Jadi fungsinya banyak, saya berharap ada satu desa yang punya kemauan untuk mengembangkan buah Capilong. Saya akan memberikan pelatihan lagi untuk pengembangan buah Capilong. Sayangnya pemerintah tidak melihat hal ini. Padahal bahannya juga tidak susah dicari di wilayah Maluku Utara ini, khususnya di Kota Ternate,” tambahnya.
Sebelumnya, di tahun 2018-2019, Lily melatih beberapa desa di Kota Ternate untuk mengembangkan Capilong, antara lain Kelurahan Kastela, Rua, Taduma dan Takome. Tapi mandek di tahun 2020 karena Covid-19 dan support yang masih kurang dari pemerintah.
“Saya akan coba lagi di tahun 2025 untuk mendekati kelompok masyarakat yang masih punya kemauan serta berantusias dalam pengembangan Capilong. Tapi untuk pengembangannya pada aspek menjadikan limbah Capilong sebagai pupuk tanaman,” terangnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!