Salah satu warga, Sri Wahyuni, mengatakan bahwa keluarganya sering mengalami batuk dan sesak napas sejak proyek dimulai. “Kami terpaksa menutup pintu dan jendela sepanjang hari, tetapi debu tetap masuk ke rumah. Anak-anak saya sering sakit karena ini,” ujar Sri.
Selain dampak kesehatan, debu dan sisa material proyek juga mencemari lingkungan sekitar. Material yang tidak dikelola dengan baik mengendap di permukaan tanah, sungai, dan laut, merusak ekosistem lokal. Di beberapa wilayah, penduduk melaporkan hasil tangkapan ikan menurun drastis akibat pencemaran di perairan.
Wamlih juga mencatat adanya kerusakan pada lahan pertanian, di mana tanaman tertutup lapisan debu tebal yang menghambat pertumbuhan. Hal ini semakin menambah beban masyarakat lokal yang mayoritas bergantung pada sektor pertanian dan perikanan untuk penghidupan mereka.
Dia juga menyoroti proyek truk angkut matrial juga harus menutup setiap angkut matras pakai terpal. ” Truk-truk yang angkut matrial proyek harus menutup karena sangat berbahaya ketika melintasi jalan banyak menghirup debu debu material,” tegasnya.
Dalam upaya mengatasi masalah ini, Wamlih mengajukan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah dan pihak perusahaan. Pertama, pengendalian debu. Pemasangan alat penyemprot air (water spray) di lokasi proyek untuk mengurangi penyebaran debu. Kedua, pengelolaan limbah. Pembersihan rutin sisa material proyek dan penerapan sistem daur ulang.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!