Menurutnya, yang direhab awal seharusnya seng, dan tidak perlu dibongkar. Tapi karena sengnya dibongkar, akibatnya saat musim hujan air masuk dan menembus plafon. “Bagi saya rehab awal sengnya tidak perlu bongkar, bikin seperti kantor DPRD yang bersebelahan dengan sekolah. Kalau di kantor DPRD sengnya tidak dibongkar dan tempel pake seng baru, makanya sudah tidak bocor di saat hujan. Tapi sekolah, sengnya dibongkar dipasang yang baru, dinding dan atap renggang, makanya di saat hujan air tergenang dan masuk masuk ke plafon,” sesalnya
Lanjutnya, karena rehab fasilitas yang rusak dari pihak berwenang sering terlambat, ia beberapa kali mengambil kebijakan dengan menggunakan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) untuk memperbaiki fasilitas yang rusak tersebut. Namun setelah diperbaiki rusak lagi.
“Kami dari pihak sekolah sering lakukan rehab ringan, pernah ganti plafon dua kali dan itu inisiatif sekolah karena dari juknis anggaran BOS itu kan rehab ringan ada. Kalau rehab berat itu kan sudah tidak masuk dalam item kegunaan anggaran BOS,” terangnya.
Pihaknya sudah berulangkali mengkoordinasikan persoalan tersebut ke Dinas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Pulau Morotai. Namun hingga saat ini belum ada respon. “Fasilitas sudah tidak layak, kami sudah laporkan ke Dikbud berulang kali, tapi jawaban yang kami dapat tunggu saja,” keluhannya.
“Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah bisa diperbaiki, supaya para siswa bisa merasa aman dan nyaman saat mengikuti proses belajar mengajar, ” harap Rusdy. (RF/Red2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!