Ratika mengatakan, bencana banjir di Halteng merupakan bencana banjir terparah dalam 24 tahun terakhir. “Pada tahun 2009 itu memang banjir besar tapi tidak separah ini, dulu disitu banjir yang keluar airnya jernih tapi banjir kali ini airnya keruh dan tidak alami,” cetusnya.
Adapun pemerintah selalu menjadikan intensitas dan curah hujan sebagai alasan pamungkas pemicu banjir di Kecamatan Weda Tengah.
Menurut dia, faktor lain penyebab banjir yang paling penting untuk dientaskan adalah alih fungsi lahan ke perusahaan IWIP. Dimana perusahaan tersebut memporak-porandakan hutan Lelilef.
“Pada kurung waktu 2018 sampai 2024, Kabupaten Halmahera Tengah mengalami deforestasi akibat konsesi perubahan tambang dan perkebunan di seputaran Lelilef. Diantara bisnis ekstraktif itu diduga dilaksanakan oleh PT. IWIP di kawasan hutan Halmahera,” bebernya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!