Adapun pemantauan hilal Ramadhan 2024 dilakukan di 134 lokasi di seluruh Indonesia.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan posisi bulan di Indonesia masih sangat rendah hanya 0,7 derajat dan elongasi 1,7 derajat yang menyebabkan bulan belum terlihat pada 10 Maret 2024.
Peneliti Astronomi dan Astrofisika BRIN Thomas Djamaluddin mengatakan, posisi itu belum memenuhi kriteria baru yang mengacu pada hasil kesepakatan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
“Kriteria MABIMS minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat,” kata Thomas.
Penerapan kriteria baru MABIMS berdampak terhadap perubahan dalam penghitungan dan penetapan awal bulan Hijriah. Selama ini kriteria hilal (Bulan) awal Hijriah adalah ketinggian 2 derajat, elongasi 3 derajat, dan umur bulan 8 jam, namun berdasarkan hasil kesepakatan MABIMS pada 2021 kriteria hilal berubah menjadi ketinggian hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Thomas menuturkan, perubahan kriteria tersebut berpengaruh terhadap penentuan awal bulan Hijriah, terutama di Indonesia yang menggunakan metode hisab dan rukyat. Menurutnya, rukyat (pengamatan) dan hisab (perhitungan) secara astronomi dinilai setara dalam penentuan awal bulan Hijriah, sehingga tidak ada dikotomi antara rukyat dan hisab.
“Metode rukyat hilal diterapkan pada tanggal 29 Hijriah untuk melaksanakan contoh Rasul ta’abudi. Agar rukyat akurat, arahnya dibantu dengan hasil hisab,” kata Thomas.
Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Gorontalo Muflih Fattah mengatakan pengamatan hilal di Pantai Botubarani, Kabupaten Bone Bolango terhalang awan.
“Memang kondisi pada saat ini, di daerah kita Provinsi Gorontalo akibat awan tebal sehingga tidak memungkinkan untuk bisa melibat secara langsung rukyatul hilal,” ucap Muflih.
Namun kata dia, hasil yang diperoleh pada hari ini tetap akan dikirimkan dan dilaporkan ke Kementerian Agama RI. “Tetap akan kita laporkan ke pusat bahwa proses pemantauan hilal telah dilakukan dengan kondisi dan kriteria,” kata dia.
Kanwil Kemenag Provinsi Gorontalo bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Gorontalo melakukan pengamatan hilal 1 Ramadhan dengan menggunakan teropong di tepi pantai Desa Botubarani.
Kepala Stasiun Geofisika Gorontalo Andri Wijaya Bidang di Botubarani mengatakan pengamatan hilal dilakukan di tempat itu karena pertimbangan jarak pandang atau visibilitas. Untuk pemantauan hilal di daerah itu dilakukan pada waktu matahari terbenam yaitu sekitar pukul 18.56.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!