Ternate, Maluku Utara- Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Maluku Utara mengalami tantangan dan kendala cukup serius. Ini dikarenakan kondisi geografis di Provinsi Maluku Utara yang terdiri dari gugusan pulau.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Utara, Dwi Putra Indrawan mengatakan kondisi Maluku Utara yang terdiri dari gugusan pulau inilah menyebabkan terhambatnya aksesibilitas serta pelaksanaan sosialisasi-edukasi secara langsung terkait QRIS kepada masyarakat.
“Selain itu, infrastruktur telekomunikasi yang belum merata di Maluku Utara yang menghambat akses masyarakat terhadap internet, dan akses masyarakat terhadap handphone yang belum menyeluruh dimana berdasarkan data BPS tahun 2022 tingkat kepemilikan handphone di Maluku Utara masih berada di angka 61,58 persen,” kata Dwi, Kamis (7/3/2024).
Meski begitu, lanjut Dwi, transaksi digital seperti penggunaan QRIS terus mencatatkan pertumbuhan positif. Tercatat hingga akhir Desember 2023, jumlah merchant di Maluku Utara telah mencapai 91.720 merchant dengan pertumbuhan tahunan sebesar 13,18 persen (yoy).
“Selain itu dari sisi jumlah pengguna QRIS, di Maluku Utara per Desember 2023 tercatat sebanyak 75.657 pengguna atau meningkat sebesar 146 persen (yoy),” pungkasnya. (Rul/Red)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!