Menurutnya, kondisi saat ini perlu dicarikan solusi terbaiknya. “Semua kapten kapal penumpang setiap ingin bersandar di pelabuhan, yang pada saat yang bersamaan ada juga kapal BBM, mereka takut untuk bersandar karena kapten kapal merasa khawatir dengan keselamatan penumpang itu sendiri,” paparnya.
Akan tetapi, suara berbeda datang dari pihak SPBU Sri Dewi PT Putri Maginti, Yusmal yang mengatakan bahwa pihak sudah melakukan survei yang menemukan masih banyak kekurangan di lokasi yang akan dipindahkan.
“Yang pertama jalan masuk menuju pelabuhan di desa Waringin itu sangat parah. Kemudian yang kedua, banyak sekali tiang-tiang lampu yang pendek di pinggir jalan sehingga yang kami khawatirkan adalah kendaraan kami yang bermuatan 10 ton susah untuk melewati karena bisa merusak tiang-tiang PLN di dalam desa,” katanya.
Begitu juga yang disampaikan Kepala Desa Waringin Kecamatan Morselbar, Marjan Taha, bahwa pihaknya menginginkan kepastian status pelabuhan Desa Waringin.
“Kalau statusnya belum ada kepastian, kita jangan serta merta menjadikan pelabuhan sebagai tempat bongkar muat BBM sebab itu nanti bertentangan dengan regulasi,” paparnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!