Pelamun yang Celaka

Oleh : Achmad Gani Pelupessy

Ku tatap senja yang mulai menguning, padanya seperti ada senyum yang merekah. Mula-mula ku pikir itu adalah biasa, sebab senja selalu seperti senyuman. Namun saat ku tatap lamat-lamat, ternyata benar ada senyum di sana, ada wajah seseorang di sana. Aku tersontak, mana mungkin ada wajah manusia di langit, apalagi harus di antara senja, pikirku. Aku membalikkan wajah, menatap apa saja yang ada disekitaran, berusaha mengusir jauh-jauh wajah itu.

“Mungkin wajah itu bukan di langit, tapi di pikiranku,” ucapku dalam hati.

Aku mencoba tak memikirkan wajah itu, lalu segera kembali menatap senja. Saat kembali ku tatap, ternyata di antara senja yang menguning, sudah tak ada lagi senyuman itu. Kali ini aku justru hampir terjatuh dan tergeletak di emperan, ternyata senyum itu telah berganti dengan tawa yang riang yang hampir memenuhi senja. Mata yang bulat, namun ketika tertawa perlahan menutup menjadi sangat cipit. Mulut yang sedikit terbuka dan menapakkan gigi-gigi yang rapi nan indah. Aku menutup mata, menarik nafas dalam-dalam sembari mengetok-ketok kepala dengan tangan yang tak terkepal.

“Kenapa dia bisa di sana?”

Masih kuketok kepalaku sendiri, kali ini hanya seperti mengelus saja. Aku sudah tak mau lagi menatap senja hari ini, pikirku. Mungkin karna senja yang menguning itulah yang membuatku teringat padanya. Aku mulai berfikir tentang pertemuan yang tiba-tiba itu, di antara pepohonan yang rindang, lautan yang membiru dan sapuan angin yang memikat, dia tiba-tiba duduk bersebelahan denganku, mengenakan baju warna kuning persis dengan senja yang menguning.

“Aaarrghhhh… Aku tak boleh mengingatnya.”

Ku usap wajah, menguraikan rambut, lalu dengan segenap hati, ku membuka mata

perlahan dan kembali menatap senja. Sebelum ku buka mata lebar-lebar, dalam dadaku berharap tak ada lagi wajah itu di antara senja, aku mengutuk keras pikiranku supaya tak lagi memikirkannya. Tangan kanan yang ku gunakan untuk mengusap wajah tadi, ku singkirkan untuk kembali menatap senja yang sedikit demi sedikit akan lenyap itu.

Hatiku senang, sebab di antara senja yang menguning itu sudah tak ada lagi penampakannya, tak ada senyumnya apalagi tawanya. Mungkin sesaat tadi pikiranku penuh dengan wajahnya, tapi nyatanya sejak tadi aku tak pernah memikirkannya, pikirku cemas. Aku berhenti mengira-ngira, memusatkan pandanganku pada senja. Kini warnanya tak lagi kuning, tapi berwarna merah membara, dan sebentar lagi hilang menjadi hitam.

Aku sudah bisa tersenyum, meski tak terlalu legah, juga bisa tenang tanpa memikirkan kembali insiden wajahnya yang memenuhi langit senja tadi. Dengan tubuh yang memelas, aku berdiri untuk melegakan badan. Ku bunyikan otot-ototku, mengangkat tinggi-tinggi kedua tangan, diikuti dengan kaki yang menjinjit dan aku telah menghilangkan lelah pada badan. Bersamaan dengan senja, angin terus meniup, kali ini dengan tiupan yang tak biasa. Tiupannya pelan saja, namun rasanya menukik, hingga terasa badan menggigil. Aku segera ingin pergi saja, tapi tiba-tiba ku dengar seperti suara bisikian.

BACA JUGA  Pergantian Kepsek Tuai Protes, Komisi IV Deprov Malut Akan Panggil Dinas Pendidikan

“Kau ternyata masih mencintaiku, bukan?”

Suara itu merasuki telingaku, dengan tawa yang terbahak seakan-akan mau mengejek. Aku mengenal suara itu. Suara yang sangat tak asing bagiku, suara yang waktu itu selalu menanyakan kabar, mengingatkan untuk makan dan suara yang selalu memanggilku dengan sebutan sayang. Aku menengok ke kiri dan kanan, mencari-cari arah suara yang baru saja membuat resah itu. Ku tatap kiri, tak ada, kanan tak ada, atas dan bawah, juga depan dan belakang pun tak ada wujud dari suara itu.

Aku menggelengkan kepala, sesuatu yang aneh telah terjadi kepadaku, pikirku. Betapa senja dan angin sore ini telah menjebakku. Dengan tatapan yang masih mencari-cari, ku putuskan untuk tidak peduli dengan insiden itu. Langkah demi langkah mulai ku jejakkan, memburu kendaraanku yang jauh di jalanan sana. Aku tak ingin memikirkan apapun, namun senyatanya aku sedang memikirkan insiden itu.

“Tak mungkin angin yang membawa suaranya kepadaku, apalagi sampai senja yang menggambarkan wajahnya,” ujarku tak yakin.

“Angin dan senja memang tak membawaku. Pikiran dan hatimu sendirilah yang terus membawaku bersamamu.”

Aku berhenti melangkah.Tubuhku mematung, tatapanku kosong, pikiranku melayang, tapi telingaku jelas mendengar suara balasan dari ucapanku tadi.

“Ha-ha-ha, kau seperti anak kecil saja,” suara itu menggeledek.

“Kenapa kau ada disini?”
“Tanyakan pada hatimu, kenapa masih mencintaiku!”

“Aku tak lagi mencintaimu. Aku sudah mencintai orang lain.”

Seperti harimau kelaparan yang menginginkan rusa, tubuhku dengan cepat berbalik memburu suara itu, mengira-ngira bahwa akan ku temukan dia disana. Mataku mencari-cari, tanganku meraba-raba, hidungku mencium-cium, barangkali bisa ku temui wangi parfumnya yang masih ku ingat, lalu bisa ku gapai dia. Senyatanya tak ada apapun disitu. Saat mataku mencari-cari, yang kutemui adalah dataran luas membentang hingga jauh menggapai laut, saat tanganku meraba-raba, yang kurasakan justru desir angin yang memikat, pun saat hidungku masih terus mencium-cium, yang pekat dan lekat hanyalah aroma senja yang membara. Sungguhpun aku dibuat lemas sore itu. Aku masih tegap berdiri, namun rasanya kaki ini tak lagi mampu bertumpuh. Mungkin kalau ku paksakan untuk melangkah, bisa terkulai raga ini, pikirku. Aku memutuskan untuk duduk sebentar, berusaha menenangkan pikiran lalu bergegas pulang saja.

BACA JUGA  Tuntut TPP, ASN Obrak-abrik Isi Kantor Gubernur Malut

Senja terus menyala, kali ini seperti darah, sebab matahari kian tenggelam. Karena

sapuan angin yang menukik, kedua tanganku berlipat di dada, katanya untuk mengurangi rasa dingin. Kepalaku yang tertutupi topi hitam, ku tundukkan menghadap lutut yang berlipat pula. Aku merasakan berada dalam senyap, hanya gelap, gelap dan gelap. Yahh aku adalah seorang pelamun yang sedang termenung, tanpa kata dan tanpa bahasa.

“Senja, kalau hampir hilang begini makin indah, ya ” Suara itu memulai.
“He-he-he, iya makin indah.”

“Tapi, apakah kamu tau, orang-orang yang menatap senja selalu memiliki perasaan yang rawan?”

“Loh, kenapa?” tanyaku.

“Sebab keindahan senja hanya berada pada sepotong waktu. Setelah malam tiba, ia akan hilang,”

Suara itu menjelaskan, “Itulah yang membuat rawan perasaan, bahwa sesuatu yang indah akan hilang jua.”
Aku menatap terkesima, planga-plongo, tak tahu menjawab apa.

“Kau tak mau berkenalan denganku?”
Mendengar tawarannya untuk berkenalan, aku tersenyum takzim, segera memasang wajah tampan meski tak terlalu tampan.

“O iya, maaf, namaku Ahmad. Kamu ?” Aku mengulurkan tangan kepadanya, yang langsung disambut oleh tangannya, pun senyumannya.
“Aku, Salsabila.”

Senja tinggal sepotong, kemerahannya sudah di ujung tanduk. Sementara angin mulai sedikit kencang. Aku merasakan tubuhku digoyang-goyang, sesekali ada tepukan di pundak kananku. Namun aku masih belum menghiraukan, lalu tiba-tiba, kurasakan tangan yang lembut menyentuh pipi ku, diusap dengan halus dan menyebut tiga kali namaku.

Ahmad…”
“Ahmad..Heiii Ahmad!”
Aku kenal suara itu, lantas perlahan membuka mata dan ku tatap wajahnya.

“Kamu kenapa? melamun saja dari tadi.”

Yaa, itu adalah suara pacarku, Kalisa. Dia yang membangunkanku dari lamunan, dia yang memotong ingatanku tentang kisah lamaku dengan Salsabila, dan dia juga adalah seseorang yang sejak tadi menemaniku menatap senja sore ini.

Aku menatap wajahnya yang penuh kerlap-kerlip, senyumannya persis Annelis Mellema di Wonokromo membuatku tersadar, bahwa sesaat tadi yang kulihat wajah Salsabila di antara senja hanyalah lamunanku saja, juga angin yang membawakan suaranya. Setelah aku tersadar dan menatap wajah Kalisa yang penuh senyuman itu, rasanya ingin tertawa sendiri dan mengutuk diriku. Bukan sebab wajah Kalisa, tapi aku merasakan diriku seperti pelamun yang celaka. Toh sejak tadi pacarku, Kalisa, yang menemaniku menatap senja, tapi wajah Salsabila yang justru aku lamunkan.

Brengsek aku ini, pikirku.
“Kamu kenapa?” Tanya Kalisa saat melihatku sadar.

“Tak kenapa, hanya ingin tidur dengan matamu yang penuh kupu-kupu saja.”

“He-he, ayok pulang, sebentar lagi gelap.” Sambil tersenyum, Kalisa menggenggam tanganku erat dan mengajakku pulang.

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah