Jumlah Orang Miskin di Haltim Meningkat

Haltim, Haliyora

Jumlah Masyarakat Miskin di Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) terus menunjukkan angka kenaikan yang cukup tinggi dari tahun 2017 sampai 2019. Ini terlihat dari presentasi data Badan Pusat Statistik (BPS).

Kepala BPS Haltim, Oki Afrizal saat di wawancarai oleh Haliyora di ruang kerjanya, Kamis (8/10/2020), mengatakan bahwa angka kemiskinan di Haltim tergolong tinggi jika dilihat dari hasil survei BPS yang menggunakan konsep kebutuhan dasar.

“yakni ketidak-mampuan penduduk dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan serta masalah pengeluaran rumah tangga perbulan,” kata Oki.

Tahun 2017, jumlah kemiskinan diangka 15,25 persen jika dikonversi ke jumlah penduduk Haltim, maka angka masyarakat miskin berjumlah 13.617 jiwa. Di Tahun 2018 sempat turun 15,02 persen atau 13.819 jiwa.

BACA JUGA  Kebutuhan Guru di Haltim Masih Tinggi

“Namun di tahun 2019, jumlah kemiskinan kembali naik, hingga 15,49 persen atau 14.530 jiwa, ini diakui akibat adanya penambahan jumlah penduduk di Haltim,” terangnya.

Selain angka kemiskinan, Kata Oki, BPS juga menyampaikan data terkait indeks kedalaman kemiskinan dan indeks keparahan kemiskinan untuk melihat kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin Masyarakat.

Lanjutnya, prensentase penduduk miskin usia 15 tahun, tingkat pendidikan tamatan SD di Angka 14,40 Persen, sementara penduduk miskin yang tamat di jenjang pendidikan SLTP diangka 57,19 Persen dan penduduk miskin tamatan SMA di angka 21,26 Persen.

BACA JUGA  Pemkab Halsel Akan Cicil Utang SMI

Sementara presentase penduduk miskin usia 15 berdasarkan sektor bekerja di haltim, tidak bekerja mencapai 49,37 persen, bekerja di sektor pertanian 32,80 persen, bekerja bukan di sektor pertanian 17,84 persen.

Sedangkan, presentase pengeluaran per kapita untuk makanan dan status miskin terdata diangka 62,60 persen, tidak miskin 55,79 persen dan miskin plus tidak miskin 56,84.

“Angka kemiskinan di Haltim juga di pengaruhi turunnya harga komoditas hasil perkebunan seperti kopra, selain itu juga petani masih sulit menembus akses pasar untuk menjual hasil pertaniannya dan juga kenaikan sejumlah harga barang akhir-akhir ini ikut mempengaruhi usaha produksi industri kecil dan menengah,” tutupnya. (Awi-2)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah