Pandemi Covid-19, Botol Bekas jadi Barang “Langka”

Ternate, Haliyora.com

Ternyata, pandemi covid-19 yang saat ini melanda dunia, termasuk Indonesia (dan juga Maluku Utara), banyak berimbas pada sisi ekonomi masyarakat. Dampak dari mewabahnya penyakit yang bersumber dari virus corona itu turut mempengaruhi pendapatan para pemungut botol bekas plastik.

Salah satunya, Abdullah Sangaji. Bekerja sehari-hari memungut botol bekas plastik selama dua tahun ini, bapak enam anak itu mengaku kesulitan mendapatkan botol plastik.

“Sebelum datangnya covid-19 ini, dalam tiga hari itu botol plastik yang kita kumpulkan 500 sampai 600. Sekarang ini 200 botol pun susah,” katanya pada Haliyora.com saat ditemui di jalan Pahlawan Revolusi, Keluhan Muhajirin, Kota Ternate, Selasa (26/05/2020) siang.

Menurunnya jumlah botol plastik bekas ini tentunya mengurangi pendapatan dari Abdullah. Pasalnya, biasanya harga tiga botol plastik bekas yang sudah dicuci dinilai Rp.1.000. “Sedangkan kalau belum dicuci, seribu rupiah untuk empat botolnya,” tuturnya.

Abdullah sendiri mengaku pernah jadi tukang gerobak. “Kerja selama tiga tahun. Saya berhenti karena kaki bagian kanan terkena asam urat. Saat sembuh, saya beralih pekerjaan memungut botol plastik,” ucapnya lirih.

BACA JUGA  Jumlah Kasus Tindak Kekerasan Perempuan dan Anak Menurun di Kota Ternate

Abdullah sendiri mengaku mulai bekerja sejak pukul 03.00 dini hari. “Biasanya sehari botol yang saya kumpulkan 100. Jadi kalau sudah 400 botol baru saya jual dengan harga Rp. 100 ribu,” tuturnya.

Dari uang itu, digunakan untuk kebutuhan rumah tangga untuk tiga hari tentunya dirasakan tak cukup ditengah himpitan ekonomi saat ini. Istri dan anaknya pun turut mencari nafkah sebagai tukang cuci.

“Tapi apalah daya. Hasilnya seperti ini kita tetap bersyukur saja. Walaupun hidup dengan apa adanya,” kata Abdullah terenyuh.

Terpisah, CN yang juga bekerja sebagai pemungut botol plastik juga juga mengaku kesulitan mengumpulkan botol bekas plastik akhir-akhir ini. Bedanya, CN mengumpulkan sebanyak 1.000 botol baru dijualnya dengan harga Rp. 250 ribu.

“Biasanya kita pungut atau kumpul mencapai hingga dua karung yang isinya 1.000 botol baru dijual karena kalau sedikit hasilnya juga sedikit. Untuk 1000 botol paling cepat tiga sampai empat hari. Paling lama satu Minggu. Kalau cepat itu biasa orang kasih botol ke kita,” tuturnya.

BACA JUGA  Walikota Ternate: Naik Turunnya Kasus Covid-19 Tergantung Kesadaran Masyarakat

Sayangnya, sekarang pun dikumpulkan sangat susah. “Saya kerja sudah cukup lama semenjak botol plastik masih berharga Rp.1.000 untuk enam botol. Sekarang dinilai untuk empat botol 1000,” ujarnya di Kelurahan Santiong.

CN sendiri mengaku sudah ditinggal suami yang meninggal dunia sementara harus menyekolahkan delapan anaknya. “Kalau Kerja lain harus kerja apa? Orang tidak membutuhkan mau bagaimana lagi?” ucapnya.

Meski demikian, dirinya mengaku tetap bersemangat untuk terus bekerja di tengah kesulitan ini. “Daripada harus memohon-mohon pada orang lain lebih baik seperti ini. Yang penting pekerjaan itu halal. Mungkin pandangan orang ini hina, tapi bagi saya tidak,” tutupnya. (Riko)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah