Warga Pulau Yoi Sulap Air Laut Jadi “Emas Putih”: Tambak Garam Modern Pertama di Malut

Weda, Maluku Utara – Di tengah dominasi industri tambang yang selama ini melekat pada Pulau Gebe, secercah harapan baru tumbuh dari pesisir Desa Umiyal, Pulau Yoi, Kabupaten Halmahera Tengah. Warga setempat kini berhasil mengubah air laut menjadi “emas putih” melalui tambak garam modern pertama di Maluku Utara.

Inovasi itu lahir dari implementasi Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) yang digagas Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Program pendampingan dan pendanaan yang mulai dijalankan pada akhir 2025 itu kini mulai menunjukkan hasil nyata.

Bagi masyarakat Pulau Yoi, produksi garam bukan hal baru. Namun selama bertahun-tahun, proses yang mereka lakukan masih sangat tradisional: memasak air laut berhari-hari menggunakan kayu bakar hanya untuk memenuhi kebutuhan ikan asin rumah tangga.

“Untuk bisa menghasilkan garam, setidaknya kami harus memasak air laut hingga 4 sampai 5 hari lamanya,” ujar Om Ibe, warga Desa Umiyal, Selasa (19/5/2026).

BACA JUGA  Kebebasan Pers di Malut Terendah dari 34 Provinsi, Ini Penyebabnya

Menurutnya, metode lama itu bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga membutuhkan kayu bakar dalam jumlah besar.

“Kami biasanya bikin garam tradisional ini hanya untuk mencukupi kebutuhan membuat ikan garam atau biasa disebut dengan ikan asin,” tuturnya.

Kini keadaan mulai berubah. Melalui sistem tambak modern, warga tidak lagi bergantung pada pembakaran kayu untuk menghasilkan kristal garam. Teknologi sederhana berbasis penguapan dan pengelolaan air laut memungkinkan proses produksi menjadi jauh lebih cepat dan efisien.

Panen perdana dari tambak garam Talaga Ijo Umiyal mencatat hasil yang cukup menjanjikan. Tambak pertama menghasilkan 108,7 ons, sedangkan tambak kedua mencapai 155 kilogram. Total produksi awal mencapai 263,7 ons.

Dengan harga pasar garam berkisar Rp 10 ribu per kilogram atau Rp 350 ribu per 50 kilogram, warga melihat peluang ekonomi baru yang selama ini nyaris tak tersentuh.

BACA JUGA  Tingkatkan Kompetensi ASN, Pemprov Malut Pakai Aplikasi SIMATA dari BKN

Kepala Desa Umiyal, Buhari Gasim, menyebut keberhasilan panen perdana ini sebagai momentum penting bagi transformasi ekonomi masyarakat pesisir Pulau Yoi.

“Kami berharap keberhasilan panen perdana ini dapat disupport oleh pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi Maluku Utara,” ujarnya.

Buhari mengatakan, selama ini Pulau Gebe lebih dikenal sebagai kawasan industri ekstraktif berbasis pertambangan. Karena itu, kehadiran tambak garam modern diharapkan menjadi poros ekonomi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“Dengan inovasi yang kami lakukan melalui program TEKAD ini, kami optimis sektor ini dapat dikembangkan lebih luas lagi. Target utamanya adalah untuk membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat di Desa Umiyal secara berkelanjutan,” terangnya.

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah