Penolakan terhadap proyek geothermal di kawasan Talaga Rano, kata dia, merupakan sikap kolektif masyarakat adat Wayoli yang hingga kini tidak berubah. Bagi mereka, wilayah tersebut bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan bagian dari identitas dan keberlanjutan hidup komunitas.
“Tanah leluhur adalah kehormatan. Ini bukan soal untung rugi investasi, tapi soal martabat,” kata Marianto.
Ia juga menilai potensi ekonomi lokal yang selama ini dikelola masyarakat seperti pala, cengkeh, coklat, dan kelapa lebih berkelanjutan dibandingkan proyek industri berskala besar yang berorientasi keuntungan.
Pernyataan bupati, menurut dia, justru melukai perasaan masyarakat yang selama ini berupaya mempertahankan ruang hidupnya. Ia mengingatkan agar pemerintah tidak menafsirkan sikap tenang masyarakat sebagai tanda penerimaan. “Kami tidak diam. Kami menahan diri. Tapi sikap kami jelas yaitu menolak geothermal,” tegasnya.
Hingga kini, polemik rencana pengembangan geothermal di Talaga Rano masih menjadi sumber ketegangan antara pemerintah daerah dan masyarakat adat. Minimnya ruang dialog yang setara dinilai menjadi salah satu faktor yang memperdalam jurang perbedaan sikap. (Redaksi)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!