Tanah Leluhur Bukan Komoditas, Suku Wayoli Tolak Geothermal: Kritik Pernyataan Bupati Halbar

Penolakan terhadap proyek geothermal di kawasan Talaga Rano, kata dia, merupakan sikap kolektif masyarakat adat Wayoli yang hingga kini tidak berubah. Bagi mereka, wilayah tersebut bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan bagian dari identitas dan keberlanjutan hidup komunitas.

“Tanah leluhur adalah kehormatan. Ini bukan soal untung rugi investasi, tapi soal martabat,” kata Marianto.

BACA JUGA  Tangani Korban Banjir, Komisi III Deprov Minta Pemprov Malut Segerakan Dana Tanggap Darurat

Ia juga menilai potensi ekonomi lokal yang selama ini dikelola masyarakat seperti pala, cengkeh, coklat, dan kelapa lebih berkelanjutan dibandingkan proyek industri berskala besar yang berorientasi keuntungan.

Pernyataan bupati, menurut dia, justru melukai perasaan masyarakat yang selama ini berupaya mempertahankan ruang hidupnya. Ia mengingatkan agar pemerintah tidak menafsirkan sikap tenang masyarakat sebagai tanda penerimaan. “Kami tidak diam. Kami menahan diri. Tapi sikap kami jelas yaitu menolak geothermal,” tegasnya.

BACA JUGA  Tim TPTGR Malut Gelar Sidang Tuntutan Ganti Rugi

Hingga kini, polemik rencana pengembangan geothermal di Talaga Rano masih menjadi sumber ketegangan antara pemerintah daerah dan masyarakat adat. Minimnya ruang dialog yang setara dinilai menjadi salah satu faktor yang memperdalam jurang perbedaan sikap. (Redaksi)

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah