Kerusakan tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga mengganggu aktivitas melaut nelayan yang bergantung pada perahu tersebut untuk mencari nafkah.
Selain insiden tabrakan, para nelayan juga menyoroti dampak lain dari aktivitas kapal tanker di wilayah tersebut. Alwi menyebutkan bahwa kapal-kapal yang berlabuh dengan menggunakan jangkar berukuran besar turut merusak terumbu karang di dasar laut.
“Setiap kapal berlabuh pakai jangkar besar, karang di bawah jadi rusak. Ini merugikan kami nelayan,” ujarnya.
Menurutnya, kerusakan ekosistem laut tersebut berdampak langsung terhadap hasil tangkapan, karena ikan semakin sulit ditemukan.
Para nelayan mendesak Pemerintah Kota Ternate dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk segera mengambil langkah tegas guna menjamin keselamatan serta keberlangsungan mata pencaharian mereka. Mereka juga meminta pihak Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) memperjelas batas wilayah labuh kapal tanker agar tidak memasuki area tangkap nelayan.
“Kami minta syahbandar memperjelas wilayah labuh kapal tanker. Jangan sampai keselamatan nelayan terus terancam,” tegas Alwi.
Selain itu, nelayan juga mendesak agar pihak berwenang memberikan sanksi tegas kepada pemilik maupun nahkoda kapal Adria atas insiden tersebut. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Kesyahbandaran maupun instansi terkait. (RFN/Red2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!