Sanana, Maluku Utara – Proyek rehabilitasi dan rekonstruksi Madrasah Tsanawiyah (MTS) di Desa Buya, Kecamatan Mangoli Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, berujung pemalangan oleh warga pada Jumat (13/3/2026). Bangunan yang hampir rampung itu tiba-tiba berubah menjadi simbol kemarahan masyarakat.
Penyebabnya sederhana namun serius: upah pekerja dan pembayaran material bangunan yang belum dilunasi oleh kontraktor.
Padahal proyek tersebut bukan proyek kecil. Nilai anggarannya disebut mencapai sekitar Rp 1 miliar dan merupakan bagian dari program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) untuk rehabilitasi madrasah yang dibiayai melalui skema Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).
Namun di balik tembok sekolah yang nyaris selesai, tersimpan tumpukan tagihan yang belum dibayar.
Sejumlah pekerja mengaku sudah berbulan-bulan menunggu upah yang tak kunjung dibayarkan. Nilainya tidak sedikit.
Marjuki Padati, kepala tukang (Bas) menyebut sisa upah yang belum dibayar mencapai sekitar Rp 45 juta. “Kalau upah kerja kami masih sekitar Rp 45 juta yang belum dibayar,” kata Marjuki kepada media ini, Jumat (13/3/2026).
Keluhan serupa datang dari penyedia material bangunan. Mereka mengaku pembayaran bahan yang telah digunakan dalam pembangunan madrasah juga belum dilunasi.
Kondisi ini membuat kesabaran warga habis.
Anjar Pawah, pekerja yang juga warga Desa Buya, mengatakan pemalangan dilakukan sebagai bentuk tekanan agar kontraktor segera menuntaskan kewajibannya.
Menurutnya, warga sudah terlalu lama menunggu tanpa kepastian. “Kalau tidak dibayar, kita palang madrasah sampai kontraktor melunasi semua,” ujarnya.
Pemalangan dilakukan dengan menutup akses bangunan sekolah. Warga menegaskan langkah itu akan terus dilakukan sampai pembayaran diselesaikan.
Masalah semakin rumit karena kontraktor disebut sulit dihubungi. Warga mengaku nomor telepon yang biasa digunakan kini tidak lagi aktif.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!