Ternate, Maluku Utara – Malam di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, Maluku Utara, Sabtu 7 Maret 2026, seharusnya berakhir seperti pertandingan sepak bola pada umumnya: peluit panjang, sorak penonton mereda, lalu stadion perlahan kosong. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ketegangan memuncak setelah pertandingan BRI Super League antara Malut United FC melawan PSM Makassar berakhir.
Sejumlah wartawan yang tengah menjalankan tugas peliputan justru menghadapi intimidasi. Rekaman video diminta dihapus. Beberapa jurnalis bahkan diminta keluar dari tribun oleh steward atas permintaan seorang pria yang diduga merupakan ofisial tim tuan rumah.
Insiden yang terjadi sekitar pukul 23.05 WIT itu kini menuai kecaman keras dari Serikat Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Pusat dan Persatuan Wartawan Indonesia Maluku Utara. Mereka menilai tindakan tersebut sebagai bentuk penghalangan kerja jurnalistik yang berpotensi melanggar hukum.
Rekaman Video Dipaksa Dihapus
Salah satu wartawan yang menjadi korban intimidasi adalah Irwan Djailani, jurnalis Radio Republik Indonesia Ternate.
Irwan, yang juga dikenal dengan nama Bradex mengaku didatangi seorang pria yang diduga ofisial Malut United FC. Pria tersebut meminta agar rekaman video yang diambil Irwan dihapus.
Video itu merupakan bagian dari dokumentasi liputan pasca pertandingan.
Permintaan tersebut bukan sekadar imbauan. Menurut keterangan sejumlah saksi, nada yang digunakan disertai tekanan. “Wartawan sedang menjalankan tugas jurnalistik. Tidak ada pihak yang berhak memaksa menghapus hasil liputan,” kata Ketua Umum SIWO PWI Pusat, Suryansyah, dalam pernyataan resmi di Jakarta, Minggu (8/3/2026).
Menurutnya, wartawan yang meliput pertandingan itu telah mengantongi kartu identitas resmi dari penyelenggara kompetisi.
Wartawan Diusir Meski Memegang ID Resmi
Situasi semakin memanas ketika pria yang sama disebut meminta steward stadion mengusir sejumlah jurnalis dari area tribun.
Padahal para wartawan tersebut sudah memiliki kredensial resmi yang diterbitkan oleh operator liga, PT Liga Indonesia Baru.
Bagi kalangan jurnalis olahraga, tindakan tersebut dianggap sebagai preseden buruk bagi kebebasan pers di arena sepak bola Indonesia. “Ini bukan sekadar tindakan tidak terpuji. Ini adalah pelanggaran terhadap kebebasan pers,” kata Suryansyah.
Wasit Terkurung di Ruang Ganti
Ketegangan tidak berhenti pada intimidasi terhadap wartawan.
Menurut laporan saksi di stadion Stadion Gelora Kie Raha, pria yang diduga ofisial tim itu juga membuntuti tim wasit hingga ke area ruang ganti.
Ia disebut menggedor pintu ruang ganti dengan keras sambil melontarkan umpatan dan ancaman kepada perangkat pertandingan.
Akibatnya, tim wasit terpaksa bertahan di dalam ruang ganti selama sekitar satu setengah jam.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!