Ternate, Maluku Utara – Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Maluku Utara menyoroti capaian pertumbuhan ekonomi daerah yang melesat 29,81 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Triwulan IV 2025. Angka ini tergolong sangat tinggi secara nasional, namun dinilai belum sepenuhnya inklusif.
Kepala Kanwil DJPb Maluku Utara, Sakop, mengatakan lonjakan pertumbuhan ditopang ekspansi sektor industri pengolahan dan pertambangan, terutama melalui program hilirisasi logam.
“Perekonomian Provinsi Maluku Utara kembali mencatatkan kinerja regional yang tinggi, yakni 29,81 persen (yoy) pada Triwulan IV Tahun 2025. Pertumbuhan ini ditopang kuat oleh ekspansi industri pengolahan dan pertambangan melalui program hilirisasi logam,” ujar Sakop dalam media briefing “Torang Pe APBN” edisi Februari 2026, Rabu (25/2/2026).
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara tersebut diiringi stabilitas makro yang relatif terjaga. Namun, tekanan inflasi perlu diwaspadai. Pada Januari 2026, inflasi tercatat 4,86 persen.
Momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadhan dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga lebih lanjut. Secara musiman, lonjakan permintaan barang dan jasa saat HBKN kerap memicu tekanan inflasi.
“Lonjakan permintaan selama HBKN berpotensi mempercepat laju inflasi, sehingga diperlukan langkah antisipatif agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” kata Sakop.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!