Situasi itu membuat keluarga pasien marah sekaligus kecewa. Setelah menunggu lama tanpa ada petugas yang datang, mereka akhirnya memutuskan membawa pulang pasien yang masih dalam kondisi lemah dan membutuhkan perawatan medis itu.
“Kalau begini caranya, untuk apa ada status rawat inap? Itu cuma papan nama tanpa tanggung jawab,” geram keluarga pasien.
Sementara Kepala Puskesmas (Kapus) Salimuli, Suminarti, membenarkan adanya keterlambatan tenaga kesehatan pada malam itu, saat dikonfirmasi wartawan. Ia menyebut, petugas piket malam tinggal di Desa Bobisingo sehingga terhambat hujan saat menuju Puskesmas.
“Iya, saat pukul 19.00 WIT baru piket malam masuk, mereka terlambat karena terjebak hujan di antara Desa Dodowo dan Desa Bobisingo,” jelasnya.
Ia menambahkan, dokter yang bertugas sebenarnya sempat datang, namun pasien sudah keburu pulang. Selain itu, ada juga tenaga kesehatan yang beragama Muslim sedang melaksanakan salat Magrib.
“Jadi Puskesmas Salimuli tetap buka rawat inap malam, hanya saja mungkin karena sedikit keterlambatan dari Nakes yang sif malam,” kata Suminarti.
Peristiwa ini memicu sorotan tajam masyarakat terhadap Dinas Kesehatan Kabupaten Halut, yang dinilai abai dalam memastikan pelayanan kesehatan benar-benar berjalan sesuai standar, khususnya di fasilitas berstatus rawat inap.
Menanggapi hal itu, Himpunan pelajar Mahasiswa Galela Utara (Hipma Halut) menyoroti kinerja pelayanan Puskesmas Salimuli.
“Seperti yang kita ketahui. Puskesmas memiliki peran penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat di tingkat kecamatan, terutama bagi mereka yang tidak mampu mengakses fasilitas kesehatan yang lebih besar, menyediakan pelayanan kesehatan dasar, seperti pengobatan, imunisasi, dan pemeriksaan kesehatan, yang sangat penting untuk menjaga kesehatan masyarakat.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!