Oleh : Yardi Jafar, S.H
Sebuah investigasi lapangan pada tanggal 7 Juli 2025 di Desa Barataku, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, mengungkap realitas pahit kehidupan nelayan pesisir. Seorang lelaki paruh baya yang tinggal di desa barataku, kami biasa memanggilnya dengan ‘om Ul’. Ia juga seorang nelayan setempat, yang menjadi saksi hidup atas menguaknya lapisan-lapisan kerentanan yang telah lama terbelenggu para penopang pendapatan maritim ini.
Frasa tentang ‘Nelayan Barataku’ bukan sekadar kisah individu, melainkan cerminan sistemik yang menempatkan mereka dalam pusaran ketidakpastian. Om Ul, dengan puluhan tahun pengalamannya melaut, menjadi saksi bisu atas perjuangan yang tak kunjung usai. Setiap fajar menyingsing, ia mempertaruhkan nyawa dengan mengandalkan perahu dan mesin Ketinting yang telah dimakan usia.
Peralatan lapuk ini bukan pilihan, melainkan satu-satunya modal yang tersisa dalam menghadapi ganasnya lautan.
Aktivitas melaut yang dimulai selepas Subuh dan berakhir menjelang sore hari, atau bahkan petang, adalah putaran waktu dalam hidup yang diatur oleh kemurahan alam semata. Persiapan alat pancing dan perlengkapan keselamatan menjadi ritual wajib, namun ironisnya, jaminan keselamatan seolah bergantung pada takdir. Tantangan berupa gelombang dan angin kuat adalah musuh abadi, diperparah oleh fluktuasi cuaca dan pasang surut yang secara langsung menentukan volume tangkapan.
Di sinilah letak anomali krusial: penghasilan nelayan sangatlah fluktuatif. Ada hari-hari ketika tangkapan cukup untuk sekadar bernafas, namun lebih sering, hasilnya tak mampu menutupi kebutuhan dasar sehari-hari. Ketergantungan pada cuaca dan ‘keberuntungan’ adalah pengakuan telanjang akan absennya jaring pengaman pendapatan yang memadai. Mesin tua dan perahu rapuh, meskipun disadari sebagai risiko inheren, sesungguhnya adalah simbol dari ketidakmampuan untuk melakukan modernisasi dan peningkatan taraf hidup.
Harapan yang disuarakan oleh para nelayan bukanlah tuntutan muluk. Mereka hanya menanti kehadiran kebijakan pemerintah yang konkret, yang terwujud dalam bentuk bantuan nyata. Bantuan tersebut bukan sekadar sedekah, melainkan investasi vital untuk menopang kehidupan mereka, meningkatkan kesejahteraan, dan meringankan beban pekerjaan yang sarat risiko.
Narasi Om Ul bukan sekadar kisah personal, melainkan mikrokosmos dari kegagalan sistemik dalam memberikan perlindungan dan dukungan memadai bagi sektor nelayan tradisional. Ketergantungan pada alat tangkap usang seperti Ketinting tua bukanlah pilihan, melainkan refleksi dari keterbatasan akses terhadap modal dan teknologi yang lebih modern. Ini mengindikasikan bahwa janji-janji kesejahteraan yang digaungkan sering kali hanya sampai di permukaan, tanpa menyentuh akar permasalahan.
Ini bukan sekadar laporan, melainkan seruan. Sebuah sistem yang membiarkan para pekerja keras ini terombang-ambing dalam ketidakpastian finansial dan ancaman fisik adalah sistem yang cacat. Sudah saatnya pemerintah merespons dengan kebijakan yang lebih dari sekadar retorika, melainkan tindakan nyata yang memastikan masa depan yang lebih bermartabat bagi para nelayan pesisir, yang selama ini menjadi tulang punggung, namun kerap terlupakan. Akankah suara mereka terus menjadi angin lalu di tengah janji-janji pembangunan? ***

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!