Menurut Muhammad Diadi, pengamat budaya yang hadir dalam kegiatan tersebut, penelitian ini tidak hanya menyoal aspek biologis E. Wallacei, namun juga mencoba memahami dimensi kultural yang membentuk relasi masyarakat dengan spesies tersebut.
“Ada fenomena menarik dalam perbedaan penamaan antara burung Salabia dan telurnya, Mamua. Ini bukan sekadar soal bahasa, melainkan cerminan makna kultural yang dalam,” ujarnya kepada wartawan, Senin (9/6/2025).
Data diperoleh dari literatur ilmiah, kamus etnolinguistik, hingga observasi lapangan. Dalam studi tersebut, buku Kisah Boki Dehegila (2012) menyebut kata Mamuya (kemungkinan varian dari Mamua) memiliki keterkaitan dengan kata “makan”. Sementara itu, Kamus Galela-Belanda karya Van Baarda mengaitkan Mamua dengan kata Ma’oa yang berarti “sarang”.
Dari hasil observasi lapangan, habitat E. Wallacei di Galela kini terbatas di dua desa, yakni Simau dan Mamuya. Meskipun kedua desa menunjukkan komitmen pelestarian, berbagai tantangan masih menghambat upaya konservasi secara menyeluruh.
“Ancaman nyata yang dihadapi termasuk perburuan liar, pencurian telur, hingga kerusakan habitat akibat pembangunan infrastruktur seperti PLTU,” tambah Amat, sapaan akrab Muhammad Diadi.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!